cerita bokep

Rindu Kehangatan Part 4

Sore itu, kembali Susilo pulang bersama Siti Nara, bosnya yang juga wanita Simpanannya. Mereka langsung menuju ke rumah Siti Nara.
Sesampainya di rumah Siti Nara, keduanyapun turun dari mobil dan dengan mesra keduanya melangkah masuk ke dalam rumah itu.
“Duduk, Mas,” tawar Siti Nara yang jika di luar kantor kini memanggil Susilo dengan panggilan Mas, tidak dengan panggilan nama saja.
Susilo menurut duduk.
“Mau minum apa, Mas?”
“Apa saja, asal bukan racun.”
“Ih, Mas Susilo . . . Siapa sih yang tega ngeracun Mas?”
“Loh, kenapa memangnya?”
“Nggak . . . Nggak apa-apa. Teh botol apa kopi?”
“Apa saja”
“Sebentar ya, Mas. . .”
Susilo mengangguk.
Siti Nara pun berlalu meninggalkan Susilo yang duduk sendirian di ruang tamu rumah tinggal Siti Nara. Namun tak lama kemudian, gadis cantik itu telah kembali dengan membawa segelas kopi dan sebotol the botol yang di letakkannya di atas meja, di depan Susilo duduk.
“Silahkan diminum, Mas.”
Susilo pun menurut minum. Setelah minum, Susilo pun bangun dari duduknya, kemudian pindah ke bangku dimana Siti Nara duduk, lalu duduk di samping gadis itu.
Siti Nara hanya diam, membiarkan lelaki tampan itu duduk di sampingnya. Bahkan, ketika tangan Susilo menggenggam jemarinya, Siti Nara hanya memandang ke wajah pemuda itu, lalu kembali menunduk, membiarkan pemuda itu menggenggamnya. Dan saat pemuda gagah itu meremas jemarinya, Siti Nara balas meremas. Lalu keduanya saling pandang penuh arti.
“Nara. . .”
“Ya. . .?” desah gadis itu dengan tatapan mata sayu.
“Aku mencintaimu. . .” bisik Susilo.
Siti Nara hanya terperangah dengan mata memandang lekat ke wajah Susilo, seakan dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Aku hanya gadis miskin, Mas. Tidak seperti Mas. . .”
“Cinta tak pernah mengenal status dan keadaan Siti Nara. . .”
“Namun status dan keadaan kadang bisa menghambat, bahkan menghancurkan cinta, Mas.”
“Tapi percayalah, aku tulus mencintaimu, Siti Nara. Sejak pertama kali aku melihatmu dan mengenalmu, kusadari kalau aku jatuh cinta padamu. Aku tak perduli kau siapa. Bagiku, kau adalah gadis idamanku, Siti Nara. . .”
Siti Nara terdiam, terbuai oleh bisik lembut Susilo. Di tundukkan kepalanya dalam-dalam, seakan berusaha untuk menyembunyikan perasaan harunya. Tanpa dirasa air matanya pun mengalir keluar, membasahi pipinya yang halus mulus dan kuning langsat.
“Kenapa kau menangis, Nara? Apa kau tak suka jika aku mencintaimu?” tanya Susilo saat Siti Nara menangis.
Siti Nara menggeleng.
“Bukan . . .Aku justru terharu dan bahagia mendengarnya, Mas.”
“Sungguh kau bahagia, Siti Nara?”
Siti Nara mengangguk.
“Jadi kau mau menerima cintaku kan, Siti Nara?” tanya Susilo meminta kepastian.
Dengan mata menatap lekat ke wajah tampan Susilo, Siti Nara kembali mengangguk pasti.
Susilo semakin hangat menggenggam jemari tangan Siti Nara. Matanya yang tajam, tetap menatap wajah cantik gadis yang sangat mempesona itu.
Ditatap seperti itu, Siti Nara pun perlahan memejamkan kedua matanya sambil merekahkan kedua bibirnya yang sensual. Susilo pun tak menyia-nyiakannya. Dengan lembut, dilumatnya bibir basah merekah itu.lumatan lembut Susilo yang disertai dengan gelora asmara yang membara, membuat Siti Nara mendesah. Sekujur tubuhnya seketika terasa panas, bagai dialiri arus listrik puluhan ribu watt. Dan tanpa sadar, gadis cantik itu pun membalas lumatan Susilo. Sehingga keduanya pun dalam sekejap saja, sudah hanyut dalam cumbuan yang mengasikkan, yang membuat perasaan dan jiwa mereka hanyut.
“Mas Susilo . . . Ohh . . .” Siti Nara merintih.
Susilo yang mengetahui kalau gairah gadis itu sudah mulai terbakar, tak mau menyia-nyiakannya. Dia terus mencumbu. Sedang tangannya semula menggenggam jemari gadis itu, perlahan namun pasti mulai beraksi. Tangan Susilo mulai bergerak, membelai rambut gadis itu dengan belaian lembut nan mesra. Lalu sedikit demi sedikit tangan Susilo mulai merambat turun ke arah leher jenjang Siti Nara dengan sentuhan-sentuhan lembut pembangkit birahi, yang membuat bulu roma Siti Nara meremang berdiri.
“Mas Susilo . . . Ohh . . .”
Rintihan Siti Nara, semakin membuat gairah Susilo bertambah membara. Sementara bibirnya terus bergerak mencumbui leher jenjang gadis itu, tangannya pun turut beraksi, melakukan belaian-belaian pada bagian-bagian tubuh Siti Nara yang sensitif, yang membuat gadis itu semakin menggerinjang dan mendesah-desah. Apalagi ketika tangan Susilo mulai menyelusup masuk ke belahan baju dan menyeruak ke dalam branya dan mulai membelai dan meremas buah dadanya yang masih mengekal, Siti Nara pun melenguh disertai gerinjangan tubuh kegelian.
“Auw . . . Uhh . . . Mas . . .”
“Kenapa . . .?”
“Kumohon, jangan permainkan aku, Mas . . .”
“Tidak, sayang. . . Aku mencintaimu . . .” jawab Susilo berusaha meyakinkan gadis itu sambil tangannya terus beraksi, melepas satu persatu kancing baju Siti Nara.
“Sungguh, Mas Susilo tak akan mempermainkan aku, dan tidak akan meninggalkanku. . .?” tanya Siti Nara meminta kepastian.
“Jangan disini, Mas. . .” larang Siti Nara ketika Susilo hendak membuka bajunya.
“Terus dimana?”
Siti Nara tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dia bangun dari duduknya. Menuju ke arah pintu rumah, menguncinya. Kemudian dia melangkah ke arah kamar.
Setelah berada di dalam kamar, Susilo kembali memeluk tubuh gadis itu sambil mencumbu. Tangannya kembali melepas baju yang dipakai oleh Siti Nara. Sehingga tubuh bagian atas gadis itu terbuka, hanya bra merah jambu saja yang masih melekat, menutupi kedua buah dadanya yang mengkal.
Siti Nara pun pasrah, membiarkan Susilo berbuat apa saja terhadap dirinya. Bahkan, ketika tangan Susilo kembali beraksi membuka branya, Siti Nara balas melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Susilo.
Sementara tangan mereka beraksi melepaskan pakaian lawan masing-masing, bibir mereka terus berpagut. Saling lumat, disertai dengan lilitan lidah saling mengait, yang semakin menambah kenikmatan tersendiri.
Dalam sekejap saja, tubuh keduanya sudah sama-sama telanjang, polos tak tertutup barang sehelai benang pun. Namun keduanya terus bercumbu, saling melumat dengan penuh birahi.
Keduanya pun terus berpacu, berusaha menuju ke puncak kenikmatan. Irama yang mereka lakukan tampak sangat indah dan serasi, bagai tarian erotis yang kian menambah nikmatnya permainan.
Napas mereka memburu. Keringat mereka mulai keluar deras dari dalam por-pori. Irama tarian mereka pun semakin lama, semakin bertambah cepat dan liar. Keduanya bagai sepasang kuda binal yang tengah berpacu di arena balap, berusaha saling mendahului. Lalu, dengan didahului lenguhan panjang disertai tubuh meregang, keduanya akhirnya sampai di puncak kenikamatan yang mereka tuju.
“Mas Susilo . . . Aku tak tahan . . . Ohh . . .” lenguh Siti Nara.
“Aku juga, Siti Nara . . . Ohh . . .” balas Susilo. Lalu keduanya sama-sama terkulai lemas sambil berpelukan erat, seakan tak ingin berpisah.
Lama keduanya diam dengan mata terpejam, seakan berusaha meresapi kenikmatan yang baru saja mereka rasakan.
“Mas . . .” akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Siti Nara kembali berkata.
“Ya.”
“Mas, kumohon kau jangan tinggalkan aku . . .” pinta Siti Nara penuh harap.
“Percayalah, aku tak akan meninggalkanmu, sayang. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan senantiasa bersamamu,” jawab Susilo berusaha meyakinkan gadis itu.
“Sungguh?” Siti Nara meminta kepastian.
“Ya.” Tegas Susilo meyakinkan.
“Oh, Mas. . .”
Dengan erat Siti Nara memeluk tubuh Susilo dan meletakkan kepalanya di dada pemuda gagah itu, yang menerimanya dengan penuh kasih tulus sambil membelai rambutnya dengan mesra. Lalu dengan lembut Susilo mengecup kening gadis itu.

***

Semakin lama, hubungan Susilo dan Siti Nara pun semakin bertambah dalam. Rupanya Susilo benar-benar sudah terlena oleh kecantikan dan keanggunan yang dimiliki oleh gadis itu. Sehingga dia pun jadi lupa pada istrinya, yang demi cintanya rela mengikutinya pergi, rela hidup menderita. Susilo pun jadi lupa, kalau istrinya sedang mengandung anaknya. Dia jadi sering pulang larut malam dan bahkan kadang tak pulang.
Sebagaimana malam itu, sepulang dari kantor bersama Siti Nara, Susilo pun tidak keluar lagi dari rumah perempuan cantik itu. Keduanya langsung masuk ke dalam kamar. Lalu tanpa banyak bicara keduanya langsung melakukan cumbu rayu sebagaimana yang sudah sering mereka lakukan sebelumnya untuk mencapai ke puncak kepuasan yang mereka inginkan.
Di kamar itu, Siti Nara tampak tersenyum sambil tangannya menggayut di leher Susilo. Kemudian perlahan dia pejamkan kedua matanya dan merekahkan bibirnya sambil mendongakkan wajahnya ke atas, menunggu ciuman yang akan Susilo berikan kepadanya. Dengan segenap perasaan yang ada, Susilo mencium bibir Siti Nara yang merah merekah.
Sambil bercumbu, tangan keduanya pun tak tinggal diam. Saling berusaha melepaskan pakaian yang dikenakan oleh lawan masing-masing. Sehingga dalam sekejap saja, tubuh keduanya pun sudah sama-sama polos, tak tertutup sehelai benang pun.
Susilo pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bibirnya terus melumat bibir wanita cantik jelita itu. Sedang tangannya, terus bergerak menyusuri tubuh Siti Nara yang mulus.
“Ouhhh . . .” desahan Siti Nara ketika merasakan lidah Susilo menggelitik di dalam mulutnya.
Susilo tak menghiraukan, paham benar kalau desahan itu Cuma karena nikmat. Sering kali Susilo menyaksikan layar biru, mungkin kenyataan itu Cuma sebagai perbandingan saja, ingin mengerti kebenarannya.
Ciuman merayap ke bawah, sebentar singgah di leher jenjang yang putih mulus. Kedua tangan lelaki itu terus menelusuri ke tempat-tempat rawan. Susilo menyapukan lidahnya di leher itu. Siti Nara menggeliat-geliat kenikmatan, satu saat merasakan dua permainan.
“Ouhhh . . .” desah Siti Nara dengan menggeliat.
Susilo menghisap-hisap leher jenjang itu, dan kedua tangannya dengan lembut meremas-remas buah dada putih dan lembut yang berukuran bra 36. Ranum dan lembut, selembut salju.
Siti Nara menikmati setiap sentuhan yang Susilo lakukan. Menggeleng-gelengkan kepala, bibirnya menganga dan matanya terpejam. Susilo merasakan lelahnya jemari yang sejak tadi menari-nari di gunungan kembar. Digantinya dengan bibir. Lalu dibenamkan wajahnya di lembah gunungan kembar itu.
Hembusan nafas hangat dari hidung Susilo, menyalurkan ke tubuh Siti Nara. Gadis itu pun mendesis-desis, ketiak wajah Susilo bergerak-gerak. Lidahnya menjilati seputaran buah dadanya. Bagai seekor uar phiton yang mencari mangsa. Tubuh gadis itu menggeliat-geliat kenikmatan. Merasakan lidah Susilo yang bergerak lembut di putting susu. Keduanya terus saling melumat dan memagut. Lama benar mereka saling menikmati bibir yang saling melumat. Perasaan Susilo kini tidak lagi mengingat daratan, apalagi yang berada di rumah. Ya, seorang istri yang sedang hamil, yang tentunya sedang menunggu kedatangannya. Susilo benar-benar bagai tak perduli dan tak mau tahu, bagaimana perasaan Nina di rumah.
Lama mereka berpacu dan bercumbu, berusaha mencapai ke puncak kenikmatan. Pendakian itu begitu melelahkan, namun terasa sangat mengasyikkan. Sampai akhirnya. . .
“Mas Susilo, Ohh . . . .”desah Siti Nara sambil mengejang-ngejang. Dia merasakan bagai terbang ke langit. Semuanya jadi terasa indah dan nikmat.
Susilo mendekap erat tubuh Siti Nara. Perempuan yang di dekapnya seperti kena serangan penyakit ayan. Saat itu Susilo juga merasa terbang ke awang-awang. Dari sekian perempuan yang pernah digauli olehnya, hanya Siti Nara yang membuatnya puas.
Siti Nara menggigit bahu Susilo. Diat tak kuat lagi menahan rasa nikmat. Detik itu dia mencapai orgasme. Tak ada kenikmatan yang bisa menandingi apa yang dirasakan Siti Nara saat itu. Sampai-sampai dia mau pingsan rasanya. Dan saat itu juga dia mencapai orgasme. Pada saat yang bersamaan, Susilo jug telah mencapai orgasme. Lelaki itu memeluk erat tubuh Siti Nara yang indah itu dengan kuat. Sesaat tubuhnya meregang, namun tak lama kemudian tubuh Susilo pun terkulai lemas di samping Siti Nara.
Susilo menatap Siti Nara yang tersenyum manis. Keduanya saling pandang dan menyimpan rasa bahagia. Kemudian Susilo pun melabuhkan ciuman yang hangat dan lembut di kening Siti Nara. Lelaki itu benar-benar merasa puas dengan permainan Siti Nara yang sangat mengesankan.

Post Terkait