Cerita bokep

Merasakan Perawan Adik Dan Kakak

Cerita bokep – Terlebih dahulu aku ingin memperkenalkan diriku namaku Hengky aku berstatus sebagai mahasiswa di kota Kediri, dikampus aku dikenal dengan cowok kece soalnya penampilanku yang selalu modis dari rambut klimis sampai pakainku yang aku pakai brand ternama, aku termasuk penggila sex yang mana di usiaku sekarang ini sudah tidak perjaka lagi, nah dibawah ini aku akan menceritakan hilangkanya perjakaku, mari kita simak bersama.

Waktu itu aku nganggap Marmar nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak Marmar hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML.

Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee…). Tapi si Marmar menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!
Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi.

Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Anggi sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Santi, adiknya Anggi entah nglayap kemana.

Baca Juga: Untuk Teman Ku

Yang ada tinggal Ana, si bungsu dan Anggi, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood.

Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Erma datang menghampiriku.
“Lagi nggak ngapel nih, Mas Henky?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Ana memang orangnya ramah banget)
“Ngapel sama siapa, Na?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.
“Ah… Mas Henky ini pura-pura lupa sama pacarnya.”
Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Ana cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.
“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.

Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Ana. Gadis 14 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Yah, kacian deh… habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”
Aku menghentikan petikan gitarku.
“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Ana deh ketimbang sama dia.”
Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Ana ada mau sama aku.
“Na, kok diam aja? Malu yah…”

Ana melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja.

Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya… waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Ana yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu.

Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Hengky bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”
“Yah Ana, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Hengky, iya nggak?” pancingku.
“Ah, Mas Hengky ini bisa aja godain Ana..”

Ana mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?

“Mau nggak Mas, tolongin Ana?”
“Ada upahnya nggak?”
“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih…”
Cubitan kecil Ana kembali memburu di pahaku. Siiiir… kok malah tambah merinding begini ya?
“Kalau diupah sun sih Mas Hengky mau loh.” pancingku sekali lagi.
“Aah… Mas Hengky nakal deh…”

Sekali lagi Erma mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Ana biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.

“Ya udah, Ana ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Hengky aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik… pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.

Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.

“Sudah bilang sama Anggi kalo kamu kemari?”
“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Hengky.”
“Trus si Anggi gimana? Nggak marah?”
“Ya enggak, ngapain marah.”
“Sendirian dong dia?”
“Mas Hengky kok nanyain Ersa mulu sih? Sukanya sama Anggi ya?” ujar Ana merajuk.
“Yee… Ana marah. Cemburu ya?”

Ana merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.

“Ana udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.
“Belum tuh.”
“Pacaran juga belum pernah?”
“Katanya Mas Hengky mau ngajarin Ana pacaran.” balas Ana.
“Ana bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.
“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Ana tertunduk malu. “Ana suka sama mas Hengky?”

Ana memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Ana.

“Ana suka sama Mas Hengky?” ulangku.
“Iya.” gumamnya lirih.

Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh…

“Mas Hengky mau ngesun Ana, Ana nurut aja yah…” bisikku ke telinga Ana

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Dia menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget.

Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.
Mmm..muah… kuhisap bibir ranum itu.

“Engh.. emmh..” Ana mulai melenguh.

Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya.

Kuperas-peras payudara Ana penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.

Bibirku merayap menyapu leher jenjang Ana. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Ana.

“Engh.. Masss… jangan… aku uuuh…”

Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Ana.

“Na… kaosnya dilepas ya sayang…”

Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Erma satu persatu dengan tangan kananku.

Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Ana bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan Ana kehilangan kenikmatannya.

Jemari Ana menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Ana ciptakan.

Kaos pink Ana terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Ana dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow… payudara Ana (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Ana. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Ana memicingkan mata.

“Na… adekmu udah gede banget Na…”
“Udah waktunya dipetik ya mass…”
“Ehem, biar aku yang metik ya Na…”

Aku berada di atas Ana. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Ana.

Putar… putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.
“Auh…Mass.. Aku nggak tahan Mass… kayak kebelet pipis mas..” rintih Ana.
Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Ana dengan mulutku.
“Mmmm… suuup… mmm…” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.
“Mass… sakiit…” rintih Ana sambil memegangi vaginanya.

Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Ana sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.

Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Ana menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Ana telah basah.

“Ana kencing di celana ya Mass?”
“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”

Ana tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Ana. Merah merona, vagina yang masih perawan.

Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.

“Tahan ya sayang…engh..”
“Aduh… sakiiit mass…”
“Egh… rileks aja….”
“Mas… aah!!!” Erma menjambak rambutku dengan liar.

Slup… batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Ana yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.

“Aduuuh Masss… sakiiit…” rintih Ana.
Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.
“Jruub…”

Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Ana. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.

“Sakit sayang…” kataku.
“Enakkk…eungh…” Ana menyukainya.

Ia pun ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Ana berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Ana melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Enggh.. ahhh..” desis Ana ketika tanganku mulai meremas-remasnya.
“Mass aku mau pipis…”
“Pipis aja Na… nggak papa kok.”
“Aaach…!!!”
“Hegh…engh…”
“Suuur… crot.. crot.. “

Lendir kawin Ana keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Ah…” lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Ana menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu.Ana pun terlelap kecapaian.

Kreek… Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Anggi terpaku di depan pintu memandangi tubuh Ana yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas.

Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Anggi yang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Ana masuk tadi Anggi mengintip di depan kamar.

“Anggi? Ng… anu..” antara takut dan nafsu aku pandangi Anggi.

Gadis ini lebih tua dua tahun diatas Ana. Pantas saja kalau dia lebih matang dari Ana. Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan Ana, tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding Ana, apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.

“Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal…”
“Asal apaan?”

Mata Anggi sayu memandang ke arah Ana dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Anggi sengaja memancing birahiku. Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Anggi membarakan gairahku lebih jauh.

Anggi duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.

“Mas Hengky.. sini.. ay…”

Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.

“Ayo.. mas mainin aku lebih hot lagi..” pintanya penuh hasrat.

Aku gantiin Anggi meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Anggi sudah nafsu banget.

“Eahh.. mmhh…” rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.
“Eahhh.. mas.. sakit.. enak….”
Anggi memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan.
“Ngi… tanganmu nakal banget…”

Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Ersa bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.

“Auh…”

Ersa menekan batang penisku.

“Ngi… sakit sayang” keluhku diantara payudara Anggi.
“Habis dingin kan mas…” balasnya.
Setelah puas aku pandangi wajah Anggi.
“Anggi, mau jurus baru Mas Hengky?”
Gadis itu mengangguk penuh semangat.
“Kalau gitu Anggi tiduran di lantai gih!”

Ana menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Ana mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya. Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya.

Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. “Mmmm… enghh…”
Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.

Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Anggi untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Anggi segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).

Anggi bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Anggi, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya.

Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Anggi. Ukuran vagina Anggi sedikit lebih besar dibanding milik Ana, bulu-bulunya juga lebih lebat milik Anggi. Dan klitorisnya… mmm… mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.

“Ngngehhh…uuuhh..” lenguh Anggi sambil terus melumat senjataku.
Sedang lendir kawinnya keluar terus.
“Ngii… isep sayang, iseppp…” kataku ketika aku merasa mau keluar.

Anggi menghisap kuat-kuat penisku dan crooott… cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Anggi. Anggi berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.

“Aha…” ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Anggi berbisik,

“Mas.. aku udah nggak tahan…”

Sambil berbisik Anggi memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.

Aku minta Anggi menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.

“Sakit Mas…”

Sulitnya masuk liang kawin Anggi, untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.

“Nggeh… dikit lagi Ngi…”
“Eeehhh… waaa!!”
“Jlub…” 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Anggi. Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.
“Eeehh… terus mass… uhh…”

Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Anggi meremas-remas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Anggi. Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Anggi menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Anggi kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Ana.

Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada Marmar.

Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh Ana ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Anggi. Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher Ana sudah memudar.

He.. he.. he.. mereka akan mengira ini hanya mimpi.