Cerita bokep

Karma Sirawu Sulo

Cerita bokep – Saya tidak pernah menyangka akan berdebat dengan Ambo, Diiringi tangisan yang datang dari langit yang menurunkan air serupa jarum-jarum sehingga genting rumah seolah ditusuk-tusuk. Setelah sejak lama hingga usia saya mencapai dua puluh empat tahun, rumah kami selalu diramaikan dengan suara bernada rendah, kalau pun bernada tinggi hanya saat Ambo berteriak karena tulang betisnya bergeser sebab terjatuh dari pohon kelapa atau Indo yang berteriak ketika melihat kecoa membuntutinya di kamar mandi, lalu hari ini tiba-tiba saja rumah sudah berubah menjadi medan peperangan.

Perdebatan saya dengan Ambo dimulai sepulang Ambo dari rumah Sanro, ketua adat yang rambutnya beruban dan matanya mulai rabun dengan ingatan yang tak lagi jernih, kemudian membisiki Indo  kalau Sirawu Sulo akan dilaksanakan tahun ini. Saya yang tentu mendengarnya karena duduk tepat di belakang Indo angkat bicara.

“Serius, Ambo? Baru dua tahun kemarin dilaksanakan, tahun ini dilaksanakan lagi?” heran saya. Ambo sontak menatap saya tajam. Matanya seperti panah yang bersiap menembus mata saya.

“Tahu apa? Ambo sudah berkunjung ke rumah Sanro, dan dia sendiri bilang begitu.”

Baca Juga: Gara Gara Ketinggalan Kunci Kamar

Saya masih tidak percaya. Sirawu Sulo selalu dilaksanakan tiga tahun sekali, meski dulu lima tahun sekali tapi politik merembesi kampung diubahlah jadi tiga tahun sekali agar sekalian bahan promosi untuk Pongka, tapi kini malah diubah lagi. Mentang-mentang Ambo calon wakil rakyat. Ini pelanggaran adat.

Saya tahu Ambolah yang senantiasa berhubungan dengan Sanro untuk diinformasikan pada Kepala Desa, kemudian diturunkan ke masyarakat mengenai tanggal baik Sirawu Sulo dilaksanakan. Ketika tadi pagi, dia tiba-tiba bertandang ke rumah Sanro, dan pulangnya malah mengabarkan hal yang tak masuk akal.

“Adampengi’ka, Ambo, betulji Sanro bilang begitu? Bukannya tahun depan baru dilaksanakan?”

“Kurang ajar. Kaukira Ambo berbohong?” Suara Ambo meninggi, kemudian tampaklah hujan turun seperti jarum-jarum dari balik jendela yang selalu terbuka. “Ini sudah perintah adat. Jika kita tidak laksanakan, kampung bisa kena karma.”

Kami memang percaya semua yang keluar dari bibir Sanro merupakan kalimat yang datang dari Tuhan. Kami harus meyakini. Bilamana ada yang mengingkar dan tidak melaksanakannya, kampung kami akan mendapatkan musibah berupa kematian berturut-turut, seolah diracuni alam dan kekuasaan.

“Apa seharusnya Ambo konfirmasi ulang sama Sanro? Jangan sampai Sanro salah ingat. Dia sudah pikun, Ambo.” Saya membalas Ambo dengan nada sehalus mungkin. Bagaimanapun, saya seorang anak dan dia seorang bapak. Lancang saya meninggikan suara di hadapan beliau.

Tapi Ambo tak terima. Dia menganggap saya sudah melawan orang tua.

Ambo pun meninggalkan saya setelah gemuruh yang terus dia lontarkan, seperti gemuruh yang enggan berhenti meronta di langit sana. Hujan masih turun. Jalan yang batu dan tanah semakin basah.

***

Indo tampak sibuk menyiapkan nasi ketan dan telur. Itu sesajen untuk ritual Mabbule Manu. Setelah segala rangkaian adat dilaksanakan seperti Mabbepa Pitu atau membuat tujuh jenis kue sebagai syarat wajib yang harus dilakukan semua masyarakat Pongka, memainkan permainan rakyat yang sudah diganti dengan pertandingan sepak bola sebagai wujud perkembangan zaman yang dilangsungkan seminggu penuh dan finalnya dilakukan tadi sore, kini puncak Sirawu Sulo akan dilaksanakan dengan diawali Mabbule Manu, mengarak ayam dari rumah Sudirman Mappangara, sanro baru setelah kematian Dajange, sanro lama yang kata Ambo sudah mengatakan kalau Sirawu Sulo harus dilaksanakan tahun ini.

Dajange mati dua hari setelah gemuruh datang di rumah saya kala itu. Banyak menduga kalau dia mati karena usianya memang sudah sangat lapuk. Beberapa orang sedikit menyayangkan, termasuk saya, sebab kami belum sempat menanyakan kebenaran perihal ucapan Ambo. Tapi karena Dajange sudah mati, dan semua orang kadung percaya, Sirawu Sulo tetap dilaksanakan untuk menghindari karma dengan mengusung sanro baru yang merupakan cucu ketiga Dajange sendiri.

“Saya masih tidak percaya kalau Sirawu Sulo berlangsung tahun ini, Ndo. Saya takut kalau itu cuma akal-akalan Ambo biar bisa sekalian kampanye. Mumpung Pongka lagi ramai dan ada soto kuda di setiap rumah,” kataku sehabis melayat dari rumah Supriadi. Lelaki bertubuh tambun itu tiba-tiba saja meninggal padahal kata anaknya, dia masih kuat pagi hari dan masih sempat memakan satu mangkuk soto kuda.

“Ushh, kau ini. Ambomu tidak mungkin seperti itu. Lebih baik kau bantu Indo membereskan rumah. Keluargamu dari Bone kota bakal datang. Jangan sampai rumah kita kotor pas mereka masuk.”
Saya mengangguk dan segera melupakan pikiran yang mengganjal. Barangkali Dajange menginginkan agar silaturahmi warga semakin erat dengan berlangsungnya Sirawu Sulo yang lebih awal.

Semakin langit diselimuti malam, Pongka semakin meriah. Warga datang dari berbagai arah, baik warga kampung maupun luar kampung. Sanro beserta rombongan mulai mengarak ayam dengan berjalan dari berbagai tempat ke Lapangan Mabbaranie, tempat Sirawu Sulo berlangsung. Orang-orang sudah siap dengan daun kelapa yang sudah diikat untuk kemudian dibakar, terus dilempar-dilemparkan sehingga terjadi perang api. Tampak Pak Bupati duduk di dekat jalan masuk menuju lapangan demi menyambut Sanro nantinya.

Tiba-tiba saya mendapat panggilan telepon dari sepupu. Indo meninggal. Katanya, Indo meninggal setelah jatuh pingsan sehabis menyantap soto kuda, persis seperti kematian Supriadi, atau tiga kematian lainnya yang sebenarnya sempat saya dengarkan sepanjang hari ini. Kenapa kematian berturut-turut bisa terjadi? Saya langsung berlari mendekati Ambo yang berdiri di sebelah Kepala Desa dan Pak Bupati. Saya ingin memberitahu soal kematian Indo, dan karma yang mungkin datang karena Sirawu Sulo.