Cerita bokep

Dewasa Doggy Style

Cerita bokep – Aku adalah seorang dosen pasca sarjana yang mengajar dan memberi seminar di mana-mana, Aku tinggal di Bogor dan hidup cukup bahagia dengan keluargaku. Suatu ketika, sedang iseng-iseng bermain dengan internet, aku temukan dia, perempuan ini bernama lifa, (aku harap ini nama sebenarnya). Mempunyai keinginan birahi yang nyaris serupa denganku yaitu bermain dengan tali.

lifa tidak cantik, dia menarik & menawan. Lalu lifa berjanji akan mengantarkan proposalnya besok jam 10. 30 pagi. Keesokannya telpon di kamar suiteku berbunyi, oh rupanya lifa sudah datang. “lifa mau langsung ke atas? Ini kamar suitenya bagus lho, ada istri Ane juga, biar Ane kenalkan sekalian! “Oh ya, kebetulan Ane belum pernah lihat kamar suite di hotel ini, sebentar aja ya Pak” sahut dari seberang telpon.

Sampai di suite roomku, saya silakan lifa duduk. lifa terlihat sangat manis secara senyumnya yang mempesona. Hari ini lifa mengenakan blus berwarna biru terang mengkilap berlengan panjang dengan model kerah shanghai dengan kancing putih yang berbaris rapih dari leher hingga nyaris ujung bajunya, memakai rok hitam serta menggenggam HP Nokia 3650 warna Biru Kuning, di pergelangan tangan kirinya ada arloji berbentuk gelang.

Di tangan kanannya ada karet pengikat rambut berwarna hitam, dan kutawarkan minuman, dia memilih apple juice kesukaannya. Kutuangkan dalam gelas yang sudah kucampur obat tidur yang kubeli kemarin dari toko obat Eng Tay Ho dalam Malioboro. “Ibu di mana Pak, ” tanya lifa seraya meminum juicenya

Baca Juga: Ngintip Pasutri Ngesex

“Oh, ada pada kamar mandi.. “Buu,.. buu..! ” teriakku seolah-olah ada dia di sana. lifa meneguk kembali minumannya sampai hampir habis serta betul pula kata si engkoh, lifa langsung tertidur di sofa ruang tamu.

Setelah pintu kukunci, aku langsung beraksi, pertama kubuka bajunya yang selalu nampak ketat, mulai kancing bawah hingga ke atas lalu BH Triump nya yang no 36, rok warna hitam yang 10 cm di atas lutut, dan terakhir CD merk Sloggy yang nampak bersih.

Selanjutnya saya mulai menerapkan cara ikatan yang kuintip dari internet. Katanya yang paling canggih itu yang dari Jepang namanya Karada. Teorinya daripada badan dulu, tapi aku takut dia terbangun, jadi biaraman tangannya dulu.

Tangan kiri kuikat erat pergelangannya, juga tangan kanan. Kemudian kedua tangannya dibawa di punggung dan satu sama lain diikat dengan jenis yang mengunci (seperti laso, makin bergerak makin erat) dan dihubungkan dengan saluran lagi ke leher ah jangan kasihan nanti bisa tercekik.

Walaupun nggak tersedia di teori tali yang mustinya di leher kuteruskan dari sosial ke depan melewati susu dan dalam bawah buah dada pada lingkarkan & diikat erat sampai dadanya membusung seperti gunung merapi mau meletus.

Agar kakinya nggak menendang walaupun masih pakai sepatu Edward Forrer dari Bandung dengan hak 7 cm dan terdapat talinya melingkar manis di pergelangan kaki itu juga diikat sanding pakai senur lain.

Sepatu ini yang dinamakan dia sepatu sexy.. dalam beberapa e-mailnya. Trus ikut sintesis aja, tali yang dalam buah dada diteruskan kebawah lewat vagina dan keatas lagi pada belakang serta diikatkan ke tangannya yang dipunggung. Memastikan lifa telah terikat menjelang, aku langsung menggendongnya.

“Oops, lumayan pula beratnya..! ” lalu meletakkannya di tempat tidur dalam posisi miring, karena tangannya terikat ke belakang. Saya tutup dan menyudahi gerbang yang menghubungkan ruang tamu dengan lubang tidurku. Aku cape juga mengerjakannya & menggendongnya, sampai tertidur di sebelah lifa.

Saya terbangun oleh suara makian wanita. “Shit, ugh! Apaan itu!? ” lifa beserta wajah ketakutan melihat tubuhnya yang berbusana saluran. Yes my dream comes true! Pikirku. aku berhasil mengikat lifa, dan ia terbangun sambil memaki-maki, “Pak, sadar Pak. Ibu ada dalam ruang mandi.. berani-beraninya berbuat begini pada Ane” teriak lifa sambil meronta-ronta berusaha membuka ikatannya.

“Lepaskan saya, let me go! To.. Takut terdengar kamar sebelah sebelum lifa makbul berteriak minta tolong, dengan gerak cepat kuambil lakban perak di meja tempat tidurku, “.. srett” serta kusumbatkan ke mulutnya, “mmhh!! mmhh!! ”.

lifa mulai dari mengeliat mencoba membebaskan dirinya, akan tetapi semakin tangannya bergerak maka semakin kencang juga persepakatan yang tersedia di ekses dadanya yang gede itu. Matanya melotot marah, ia terlihat kesakitan tapi mungkin ia menikmati juga.

“Oh lifa Aneng, istriku memang ada pada kamar membasuh, tapi di rumahnya dalam Bogor, ” jerit tawaku yang kubuat seram. “Permainan baru akan dimulai lifa” kataku secara tegas. “Uugh, mmh, awwh!! ” lifa hanya dapat mengeluh tanpa suara.

Matanya mulai berkaca-kaca dan kelihatan putus asa. Aku mulai bekerja jepitan baju kupasang pada kedua putingnya dan dihubungkan dengan senur kecil yang nyambung di tangan yang dipunggung.

lifa meronta-ronta menggerakkan tangannya mencoba untuk melepaskan ikatannya, tapi hasilnya adalah ikatan di buah dadanya semakin menyakitkan, juga putingnya menjadi tertarik oleh jepitan baju dan menambah rasa sakit.

Masih belum puas aku meneteskan lilin panas pada jarak 40 centimeter dari risiko dadanya, ternyata ia bukan terlalu kesakitan maka kudekatkan jadi sela 20 cm ia menggeliat, meronta mmh,.! ugh,.! semakin terikat & makin sakit dan ia telah melewati entah orgasme yang keberapa kalinya melalui tali yang melilit dengan perantara vagina serta anusnya.

Akhirnya lifa nampak memelas sekali seperti minta diampuni, kiranya karena sudah biasa terlalu lelah meronta-ronta dan orgasme. “Kamu akan Aku lepaskan kalau mau ngemut punyaku & minum datang bersih, ok?

Matanya mengedip lemah. Tapi aku belum lega, aku berubah pikiran, apalagi buah zakarku yang amat bersemangat sudah menunjuk-nunjuk ke lifa! Saya membuka ritsluiting celana kemudian melepaskan permufakatan di kakinya yang rapat itu kemudian pergelangan kakinya yang sedang terikat beserta sepatu yang sexy tersebut kusambungkan di kaki tilam sehingga lifa terlentang pada posisi tangan terikat kincit sementara kakinya terikat terlentang.

Penisku 16cm itu masuk dengan paksa ke vaginanya yang ternyata sudah bercairan. Masuk, keluar, masuk, tampak, berkali-kali hingga spermaku muncrat. Aku terbaring lunglai, dalam atas tubuh lifa yang berbusana tali itu, setelah mencapai puncaknya, “Good Girl” kataku lalu memegang kepalanya seperti saya menyayang-nyayang anjing keAnenganku si Bonci.

“Mami, sudah jam 5 sore kok belum kembali. Sales Call, status? ” terdapat 4 SMS yang bernada serupa. Kumatikan HPnya supaya dia jangan sampai mampu SMS untuk minta sokong, juga aku cabut kabel telpon pada kamarku.

Post Terkait