cerita bokep

Cerita Sex Mak Iza

Singkat cerita, tempat tinggal pun kedatangan tamu. Untuk menghormati orang tua, kami menjemput pasangan itu. Tak ada kejadian istimewa ketika kami menjemput. Layaknya anak kepada orang tua, kami berusaha melayani sebaikbaiknya.

Sampai tibalah saatnya Titin meahirkan bayinya dan harus tinggal di rumah sakit bersalin, kerennya sih Rumah Sakit Ibu dan Anak. Dokter kandungan yang memeriksa isteriku menyatakan

sebaiknya Titin tinggal di RS agar pemulihan kesehatan dan perawatan bayinya. Kami yang semula berempat terpaksa meninggalkan Titin di RS dan kembali ke rumah bertiga saja. Aku dan kedua mertuaku.

Cerita Sex Terbaru | Nah, ketika kami tiba di rumah, aku duduk di sofa sambil tidurtiduran, Sementara mertuaku menyibukkan diri, berusaha kerasan di tempat anaknya. Bapak mertuaku tampak sibuk dengan buku tekateki silang yang entah dari mana ia dapatkan. Ibu mertuaku pun menyambar koran dan duduk di kursi sebelah sofa di ruang tamu. Posisinya agak menghadap aku, dengan sofa dan kursi membentuk huruf L. Sofa tempatku berbaring adalah bagian atas L, dan kursi tempat mertuaku membentuk bagian bawah L.

Saat itu aku terserang kantuk sebenarnya. Jadi, aku bergeser ke samping dan membuka mata. Ibu mertuaku, namanya Azizah, yang biasa ku panggil Mak Iza, kelihatan serius membaca koran sampai menutup wajah dan tubuh bagian atasnya. Maka aku hanya bisa melihat dia dari pinggang ke bawah.

Saat itulah aku tersadar! Dia mengenakan salah satu rok lipit panjang, yang telah turun sampai ke lutut dan cukup longgar. Jelas, ketika ia duduk roknya naik sedikit di atas lutut dan agak longgar. Hal pertama yang aku lihat adalah sepasang betis yang memukau! Maksudku ramping dan cantik, seperti yang terlihat di sinetron TV itu! Inilah rahasia pertama yang aku temui pada Mak Iza.

Siapa yang mengenal Mak Iza, tidak akan pernah melihat bagian atas lututnya. Tapi kali ini mataku menjelajahi kakinya dan melihat bahwa cara ia duduk membuatku dapat melihat seluruh pahanya dengan jelas! Putih krem dan tampak sehalus sutera berlanjut hingga menghilang dalam kegelapan. Aku merasa penisku terjepit di celana! Aku tahu aku sudah kehilangan seks yang sehat, tetapi kaki dan paha perempuan akan membuat lakilaki berdarah merah menarik napas! Aku terus menatap kaki seksi itu dan mulai berfantasi apa rasanya berada di antara keduanya! Maksudku, ini adalah ibu isteriku dan ia membangkitkan birahiku!

Aku yakin dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan tak sadar membuatku terpesonaa. Dia masih sibuk dengan koran, jadi aku meringkuk, berusaha menyembunyikan penis kerasku ke dalam bantal. Tak lama kemudian aku mendengar dia memanggil nama aku lembut dan bertanya apakah sudah saatnya makan malam? Aku bilang akan segera bangun, tetapi dia mengatakan santaisantai saja, karena ia ingin berganti pakaian dulu sepulang dari RS. Dia bangkit pergi sementara aku menunggu penisku normal dulu agar bisa bergerak. Akhirnya aku sudah kembali normal dan berjalan ke dapur, melewati Pak Hasan, mertua Izakiku yang masih tenggelam dalam TTS dan tidak menunjukkan tandatanda bergerak.

Karena tak memiliki pembantu dan memang piawai memasak, aku ke dapur menyiapkan makan malam untuk kami bertiga. Saat itulah aku mendengar Mak Iza masuk ke dapur, tempat aku menemukan rahasia kedua. Mak Iza telah berganti pakaian menggunakan celana kulot krem dan polo shirt berhias bordir . Aku tidak banyak perhatian langsung pada kulot karena polo shirtnya cukup ketat memamerkan sepasang payudara indah! Setidaknya berukuran 36, bulat dan penuh dan jauh lebih besar daripada milik anakanaknya yang tiga orang perempuan semua itu.

Desakan di celana mulai lagi ketika aku melihatnya bergerak di dapur. Aku harus berhatihati menyembunyikan tonjolan penis ini.

Kami lantas mulai menyiapkan makanan dan aku tidak bisa apaapa kecuali mengawasi goyangan buah dada setiap kali ia memotong sayuran. Namun gairah birahiku kian memuncak ketika pikiranku melayang kembali ke paha dan kaki yang terlihat beberapa saat sebelumnya. Aku berjalan ke tempat cuci piring untuk memeriksa apakah aliran airnya lancar.

Saat aku menoleh bagian bawah aku agak terkesiap melihat bokongnya. Maksudku, itu tidak sebagus punya Titin, dan menunjukkan tandatanda setengah baya sedikit melebar, tapi tampak montok, bulat dan sexy.

Dengan mudah aku membayangkan tanganku meremasnya! Aku belum bisa percaya tergetar oleh Mak Iza, tanpa dia ketahui! Kami selesaikan sajian makan malam itu berdua: aku berusaha menyembunyikan penis keras, sementara Mak Iza tidak mampu mengalihkan mataku jauh dari gundukan yang merangsang! Pak Hasan segera bergabung dan kami cepat selesai memasak dan beralih di meja makan.

Aku tidak bisa mengambil risiko ketahuan, jadi mataku terus di piringku sementara kami bertiga mengobrol ringan. Aku selesai pertama dan bilang kecapekan serta berniat mandi langsung menuju tempat tidur.

Ketika aku membuka pakaian di kamar mandi, gambaran tubuh Mak Iza memenuhi kepalaku. Penisku tegang setegangtegangnya dan berdenyut saat aku menyabuninya. Pada gosokan kesekian pikiranku kembali membayangkan halus paha dan kaki Mak Iza, hingga aku meledak dalam getar orgasme luar biasa! Aku harus bersandar ke dinding ketika air maniku menyembur.

Setelah itu aku cepatcepat menyelesaikan mandi dan pergi tidur. Beberapa kali aku terbangun dan membayangkan mengisap payudaranya, membelai pahanya, mencengkeram bokongnya. Ketika aku melihat ke bawah batang di selengkanganku mengeras. Tak tahan, kembali aku beronani, kali ini di tempat tidur.

Aku tertidur kembali dan ketika aku terbangun sebelah kamarku sudah dibanjiri cahaya dan jam kesukaan aku menunjukkan pukul 10 kurang sedikit. Aku duduk, perasaan seperti aku baru saja pergi tidur, dan teringat telah menghabiskan malam dalam gairah memuncak sehingga basah celana dalamku. Aku terhuyunghuyung ke kamar mandi.

Cerita Dewasa Mak Iza

Bagaimanapun, Mak Iza tampaknya belum menyadari birahiku. Usai mandi, aku mengeringkan diri dan dengan penuh semangat bersiapsiap untuk kembali ke RS untuk melihat Titin. Aku mencium aroma kopi yang sedang diseduh di dapur dan mendatanginya. Mak Iza memanggilku dari ruang makan

Budi, ya? (Dia selalu memanggil aku Budi, begitu tepat)

Ya, jawabku.

Oh, bagus, dia berkata, Aku sedang menunggumu bangun. Bapak telah pergi keluar untuk sedikit untuk mencari beberapa buku TTS. Ia harus segera kembali dan kemudian kita akan pergi melihat Titin

Aku bisa mendengar koran berdesir dan berpikir ia telah terjebak dalam hidungnya lagi. Aku memutuskan untuk pergi duduk di ruang tamu dan menangkap berita sebelum pergi. Kita hidup dan r. makan yang terbuka untuk satu sama lain dan aku sekilas melihat Mak Iza keluar dari sudut mataku, duduk di meja ruang dinning membaca koran Minggu.

Ketika aku duduk di kursi aku menyalakan t.v. dan dibalik itu ke salah satu program Minggu pagi. Ketika aku menghirup kopiku Aku melirik Mak Iza, masih terpesona dalam membaca. aku agak terkejut melihat bahwa ia masih mengenakan gaun tidur sutra putih. Mak Iza tua koq, pikirku, sampai aku membiarkan mataku melayang ke bawah. Dia telah menyilangkan kaki dan memperlihatkan sedikit bagian atas lututnya. Penisku mulai bergerak saat aku menatap kaki Mak Iza.

Semua membuat aku tegang dan aku hanya duduk minum kopi sambil menatap kaki! Akhirnya aku memaksa bangun dan pergi dari dapur untuk meletakkan cangkir ke dalam bak cuci. Tepat ketika aku hendak pergi, Mak Iza berjalan dalam membawa piringnya ke tempat cuci piring.

Dia tersenyum sopan, dan bertanya Apa mau berangkat sekarang?

Eh, Ya, kataku, agak malu karena aku baru saja mengintipnya.

Iya deh, dia berkata, Mak dan Bapak akan segera menyusul dan memutar keran air untuk mencuci piring.

Aku hampir sampai ke pintu ketika ia memanggil namaku

Budi, di mana Titin menyimpan sabun?

Eh, pikirku sambil berjalan kembali ke dapur, Apakah Mak lihat di bawah bak cuci piring?

Ketika aku masuk, aku melihat Mak Iza, satu tangan di bak cuci piring yang lain di pintu, agak sedikit membungkuk melihat ke kolong. Saat aku semakin dekat aku melihat bahwa dalam posisinya sekarang bagian depan bajunya memperlihatkan puncakpuncak payudaranya. Tampak seolaholah buah dada itu seperti memberontak keluar dari kurungan.

Payudaranya memang agak kendur, tapi ketika kondisiku sekian lama libur birahi, keduanya tampak sangat merangsang! Aku juga bisa melihat tonjolan putingnya dari baju Mak Iza. Penisku langsung keras saat aku melawan dorongan untuk mendekatkan wajahku di antara payudaranya!

Mak Iza menyadarkan aku ketika mengatakan Nggak ada tuh Mal

Aku segera mendekat untuk mencari sabun cuci piring. Beruntung aku menemukannya dan kami berdua berdiri lurus ke atas dengan Mak Iza melanjutkan mencuci, benarbenar tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.

Cerita Mesum Mak Iza

Kunjungan dengan Titin dan bayi berjalan dengan baik dan orangtuanya bergabung dengan kami setelah beberapa saat. Aku mengepalkan mata Mak Iza meskipun sendiri, merasa beberapa gejolak di selangkanganku saat ia melangkah masuk.

Mertuaku pulang lebih dulu, sementara tidak terlalu terburuburu. Ketika aku rasa kunjunganku cukup aku memutuskan pulang untuk makan malam. Aku mencium Titin dan bayi dan segera pulang dan tidur. Sebenarnya aku memikirikan untuk mencoba siapa tahu Mak Iza dapat melepaskan birahiku yang memuncak.

Keesokan harinya, bangun tidur aku segera mandi pagi. Selanjutnya aku mengenakan celana pendek dan tshirt berjalan ke dapur. Aku teringat Pak Hasan mertua lakilakiku biasa jalan pagipagi dan pulang siang hari. Mungkin di rumah tinggal aku dengan ibu mertua. Lantas aku berjalan ke dapur untuk menemukannya bersandar di tengah ruang sambil membaca koran pagi.

Mak Iza sudah sarapan? kataku sambil menatapnya.

Belum. Mak nunggu Budi. Bapak sudah jalan tuh Mal, katanya sambil bergerak ke meja makan.

Aku menatapnya. Dia menunduk. Kami pun mulai menyantap nasi goreng sarapan yang sudah Mak Iza buat sebelumnya

Aku bilang sama Titin Mak Iza dan Bapak itu sangat cocok. Jadi awet muda semuanya, kataku mebuka obrolan dengan hatihati.

Yah, kami mencoba untuk menjaga kesehatan. Masa sih awet muda? Itu sih supaya mertua senang, katanya sambil tersenyum.

Tapi tetap saja, Mak Iza memang masih cantik, jawabku.

Jika kamu mencoba merayu aku Budi, berhenti deh, dia sedikit tertawa.

Aku merasa penisku kesukaran di celana. Aku melihatnya bergerak menuju dapur dan takjub betapa aku mendambakan wanita ini, seseorang yang tak berarti apaapa bagiku beberapa hari lalu. Dia bersandar pada tengah meja dan membaca koran, sementara dia makan. Aku berdiri di sisi berlawanan, seperti bersandar ke sisi meja.

Aku mengamati sejenak dan kemudian berkata

Mak tahu nggak, Mak akan membuat setiap lakilaki bangga menggandeng Mak.

Dia mendongak dan menatapku sejenak, lalu menyeka mulutnya dengan serbet.

Eh . terima kasih, itu katakata yang menyenangkan, katanya malumalu.

Dia bingung oleh komentar tak terduga dan gugup menghirup teh. Aku terus memandangnya.

Aku bukan purapura, sungguh koq Mak, jawab aku sangat tenang.

Dia hanya terus menatapku, mencoba untuk memikirkan bayangan. Kayaknya, kamu sedang gombal Budi, katanya sambil tersenyum.

Masa sih? Nggak mungkin Mak belum pernah mendengar orang lain memuji kecantikan Mak, kataku sambil meletakkan kedua tangan di meja dan bersandar sedikit ke depan.

Dia tampak terkejut dan aku bisa tahu dari caranya memandang aku bahwa dia takut dia telah menyakiti perasaan aku. Bukan begitu, hanya saja aku tidak mendengar banyak dari lakilaki, bahkan dari Bapak, katanya.

Aku santai membungkuk sedikit lebih jauh, menempatkan tanganku di atas meja. Koq Bapak begitu? kataku.

Yah, kamu tahu, ketika telah lama menikah yang begitu sudah jarang terdengar, jawabnya.

Aku menatap dalam di matanya dan berkata Ya biar saja aku yang memuji Mak sepenuh hati.

Mak rasa memang Budi memuji sungguhan, katanya ketika mencari sesuatu di mataku.

Aku membungkuk sedikit lagi sampai kami terpisah beberapa inci saja. Dekat dengan perempuan seperti Mak seharusnya membuat betah lamalama ngobrol. Aku betah lamalama dekat Mak, kataku sangat lembut, menatap ke matanya.

Dia hanya menatap kembali, alis berkerut, seolaholah ia sedang mencoba memahami apa yang aku katakan.

Mak harus bilang apa ya? jawabnya.

Mak nggak perlu bilang apaapa, aku memotong.

Aku bergeser lagi hingga hidung kami hampir bersentuhan dan berbisik padanya Lebih baik tidak usah bicara.

Mata miliknya bergeser turun ke mulutku dan dengan kening berkerut memerhatikan saat aku perlahan mendekatkan dua bibir kami. Rasanya seperti itu lama sekali ketika bibirku semakin dekat dengan wajahnya, sampai aku merasa menyentuh dan kemudian merapat ringan lembut, ciuman yang menakjubkan!!

Matanya tertuju pada aku dan menunjukkan keheranan, namun ia membeku di tempat ketika aku menciumnya. Aku tahu aku tidak bisa memainkan tanganku berlebihlebihan dulu dan aku pikir lebih baik mundur sejenak dan melihat reaksinya. Aku perlahanlahan mundur dan merasakan bibir kami terpisah secara perlahan, sambil menjaga mataku pada bibirnya. Kenapa Budi cium Mak? tanyanya tak percaya, suaranya tepat di atas bisikan.

Nggak tahu Mak, aku berbohong,

Aku tidak bisa menahan diri.

Matanya berlari dari mulut ke dua mata dan kembali lagi seolaholah ia sedang mencari penjelasan yang masuk akal. Kami berdiri di sana untuk beberapa saat, hanya memandangi satu sama lain.

Dia menunduk dan berkata

Yah Budi tidak seharusnya begitu. Ini tidak benar!

Aku mengamati sejenak dan berkata

Aku kira eh eh aku nggak sadar. Mak begitu cantik, sampai aku tidak bisa menahan diri

Dia menatapku dengan ekspresi kosong di wajahnya. Aku membungkuk lagi dan menutup kesenjangan antara kami.

Seperti sekarang, kataku

Dia tetap fokus pada bibirku ketika memusatkan perhatian pada bibirnya, menyekanya ringan dan kemudian melekat lembut. Bibirnya lembut dan hangat menyentuh ketika aku menekan lembut. Matanya menatap aku dan bergetar saat dia mengeluarkan desahan kecil. Aku melanjutkan ciuman ketika penisku meluncur di celana, menekan meja, dan aku merasa sulit untuk mengendalikan napas. Nafsu aku semakin naik ketika menekan bibirku sedikit lebih tegas ke bibir Mak Iza.

Cerita Ngentot Mak Iza

Dia mengeluarkan suara dengusan dan mencoba menghindari ciuman dengan meletakkan tangannya ke dadaku dan mengerahkan sedikit tekanan, tetapi tidak benarbenar cukup untuk mendorongku. Aku tidak ingin merusak saat ini dengan menjadi terlalu agresif, jadi aku teruskan ciuman lembut dan tidak bergerak, hanya bersentuhan merasakan nyaman di bibirku.

Aku melihat matanya ketika mendelik lagi dan dia mengeluarkan gumaman lembut, uhhmm.

Kelopak matanya seolaholah berjuang untuk tetap terbuka, tapi perlahanlahan kalah dalam pertempuran ketika akhirnya terpejam. Aku merasakan bibirnya melunak sedikit di bawahku sehingga aku memiringkan kepala dan bibir aku tenggelam sedikit lebih ke dalam miliknya, tetapi dia masih berdiri diam. Aku ingin menjelajahi mulutnya, tapi berperang melawan dorongan dan hanya membiarkan bibirku menyentuh miliknya. Kepalaku mulai bergerak perlahanlahan naikturun, bibirku membelai miliknya.

Alis Mak Iza terangkat saat ia mengembuskan napas pelan lagi, uhhm, membiarkan otototot lehernya untuk bersantai, menyebabkan kepalanya bergerak seirama dengan aku, menyerah sepenuhnya untuk berciuman denganku!

Ciuman itu tidak berat sama sekali, namun itu adalah ciuman paling bernafsu dalam hidupku! Ruangan itu hening kecuali suara yang lembut bibir kami yang beradu. Dorongan libidoku naik dan penisku berdenyut kencang. Aku merasa sangat ingin mendekapnya dan menekan tubuhnya ke dekatku, tetapi ada penghalang di antara kami. Ciuman berlanjut, hampir dalam gerakan lambat, kepala kami perlahan bergerak naik dan turun bersamasama ketika lembut bibir kami menyentuh satu sama lain.

Hampir pada saat yang sama kita berhenti bergerak dan perlahanlahan menarik kembali, bibir kami masih melekat sejenak sampai terpisah secara bertahap. Aku hanya mundur untuk fokus pada reaksi. Mata Mak Iza masih terpejam dan ia bernapas sangat pendak, napas cepat melalui bibir sedikit terbuka. Aku mabuk oleh ciuman itu sambil mengangkat kelopak matanya dalam kabut murung, dan terfokus pada mulutku, tampak seperti ia mencoba datang untuk menerima apa yang baru saja terjadi. Aku memandang ke arahnya dan mendapati diriku menatap bibir berkilaunya.

Tuhan, bibir itu! aku menjerit dalam hati, Aku harus merasakannya lagi!

Aku khawatir dia akan tersadar dan menampar aku, tapi rasanya aku sudah telah tergilagila pada mertuaku ini! Aku perlahan maju lagi, menatapnya bereaksi. Rupanya Mak Iza terus menatap bibirku yang semakin dekat dengan wajahnya. Kemudian, aku terkejut, matanya menyipit dan ia mengangkat kepala sedikit dan memiringkan kepalanya untuk menyelaraskan bibirnya dengan bibirku, menunggu!

Aku raguragu sejenak, bibir kami yang masih terbuka saling menanti, dan, ketika aku melanjutkan gerakan ke arahnya, dia bergerak maju untuk melekatkan bibirku dengan bibirnya dalam kehangatan ciuman perselingkuhan! Bertemunya bibir kami, entah bagaimana, menyebabkan kami berdua mengeluarkan erangan lembut, uhh hmm.

Kali ini kami bergerak bersamasama, bibir kami melekat perlahan, kepala kami pun bergerak perlahan ke atas dan ke bawah, menyentuh bibir kami masingmasing secara bersama. Kelembutan ciuman itu membuat birahiku menggelegak dan pada saat yang sama aku menyadari betapa inginnya aku menyetubuhinya.

Penisku berdenyut seperti memberontak di celana ketika kami melanjutkan, kepala kami terombangambing, menekan bibir lebih kencang bersama, namun mempertahankan kelembutannya. Rasaan luar biasa! Setelah beberapa saat ia berhenti, meletakkan tangannya di dadaku dan perlahanlahan menarik kembali, mundur perlahanlahan dan memishkan bibir kami. Mata Mak Iza perlahan terbuka dan ia menatapku, sambil menghela napas.

Berhenti .. Budi, ini ini sangat salah! Kita tidak bisa . membiarkan ini terus! dia mengerang.

Dia tampak bingung ketika ia berdiri tegak, matanya tertunduk.

Aku.. . .. tidak tahu bagaimana .. ini terjadi, tetapi kita harus berhenti! dia mulai menangis.

Aku menatapnya, mencoba memikirkan katakata yang bisa membuatnya tenang sehingga aku bisa terus melanjutkan .

Mak Iza um aku nggak bisa jelasin, kataku.

Dia memandang mataku, dan berkata Mak tidak menyalahkan kamu sepenuhnya, Budi.

Dia menunduk lagi dan berkata Maksud aku pertama sih mungkin tidak apaapa, spontan. Tapi yang kedua kedua kalinya Mak seharusnya mencegah Budi . tapi Mak. membiarkannya terus . Mak menyerah! Mak juga nggak tahu kenapa begitu! Waktu Budi mencoba lagi mak seharusnya sudah menguasai diri, tetapi Mak bukan berhenti malah membiarkan itu terjadi .. Ya tuhan, Mak juga membiarkan kamu. Gimana Mak bisa menghadapi Bapak dan Titin setelah ini?

Aku berdiri sambil berpikir dan kemudian mulai bergerak ke sisi , tapi tibatiba ia mendongak dengan ekspresi kaget dan mulai bergerak kembali. Aku berhenti dan bersandar di ujung pulau dan dia berhenti di sepanjang sisi. Dia cukup dekat sehingga aku bisa meraih dan menyentuhnya, namun cukup jauh, sehingga ia merasa nyaman.

Mak Iza aku tidak akan khawatir tentang Bapak dan Titin, mereka tidak pernah perlu tahu. Hanya saja sesuatu yang terjadi dan dapat tetap bersama kita kataku dalam upaya untuk alasan dengannya.

Tuhan, Titin tidak boleh pernah tahu tentang ini!

Dia tidak menatapku, tapi berkata

Oh, Budi Mak berharap bisa menjelaskan pada diri sendiri bagaimana hal ini terjadi! Tidak ada yang seperti ini, belum pernah terjadi padaku .. Mak cuma .

Mak Iza, aku yang bersalah, kataku.

Aku terhanyut. dan tidak bisa benarbenar menjelaskan Mak. Aku melihat betapa cantiknya Mak dan aku. .. tak bisa mengendalikan dorongan untuk mencium Mak! Aku tidak bisa menahan diri! Kemudian setelah aku melakukannya Aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana rasanya.. dan aku terdorong ingin melakukannya lagi! Pengen sekali sehingga aku tidak bisa menahan diri

Saat aku berbicara ia akan melirik ke arahku, lalu mengalihkan matanya ke bawah, seolaholah dia malu dengan penjelasan aku.

Ia menyela Yah mungkin begitu, tapi Mak sudah tua dan Mak kan mertuamu. Mak nggak mengerti berciuman sama Budi sampai tiga kali.!!!

Aku tetap diam beberapa saat, agar berhatihati menanggapinya.

Satusatunya penjelasan yang aku miliki, Mak memang membuatku terpesona. Aku berkata dengan nada tenang.

Ekspresi wajah Mak, saat rambut Mak memantulkan cahaya, ketika bibir Mak menyentuh bibirku semua itu terlalu banyak. Aku tidak pernah berpikir yang lain . Aku hanya mengikuti perasaan. Aku sangat menyesal, dan tidak tahu bagaimana Mak bisa memaafkan aku

Aku bersandar ke dinding, mencoba bermain dengan simpati. Dia menatapku sebentar dan kemudian melangkah ke arahku.

Nah, Budi, aku kira ada cukup alasan untuk saling menyalahkan. Aku merasa begitu . kotor! dia menangis.

Aku menyela,

Jangan, itu tidak seperti itu. Ini bukan apaapa. Aku terpesona oleh Mak sebagai perempuan sangat menarik dan aku tidak bisa ingat kapan terakhir kali aku merasa begitu bermakna dengan kehadiran Mak.

Matanya melebar ketika ia meresapi apa yang aku katakan.

Oh, Budi Mak tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada yang pernah mengatakan itu kepada Mak sebelumnya. Mak mau bilang sungguhsungguh, Mak cuma kaget jawabnya.

Aku mengamati wajahnya sejenak untuk membiarkan semua rayuanku mengena.

Aku.. tidak bermaksud membuat Mak canggung atau tidak nyaman dan bukan maksudku mempermalukan diri kita sendiri,.. aku benarbenar tidak bisa menahan diri. Kataku.

Matanya melembut dan ia menjawab

Mak percaya kamu Budi. Katakatamu saja yang mengejutkan. Mak tahu sedikit tentang apa yang kamu bicarakan, Mak merasakan juga di ciuman terakhir.

Dia berhenti bicara dan menunduk lagi. Pada saat itu aku pikir aku tidak pernah menginginkan wanita mana pun seperti aku ingin dia. Rasanya seperti seorang sakit yang pergi ke bagian terdalam dari pangkal paha aku.

Aku membungkuk ke arahnya dan berkata Mak Iza, aku tidak bisa menjelaskannya, tapi aku tidak bisa menahannya.

Aku terus bersandar ke depan, bibirnya dalam jarak jangkauku. Dia tampak diam di tempat, mata melebar menatap aku yang kian dekat.

Dalam hening, suara lembut Mak Iza keluar

Jangan Budi . jangan .. ayolah .

Dia meletakkan tangannya di dadaku saat menggerakkan kepalanya ke belakang sedikit untuk menjaga agar bibir kami tak bertemu. Aku perlahanlahan menutup jarak yang tersisa, bibirku mendekat dan lebih dekat dengan wajahnya, sampai aku merasakan sensasi ketika bibirku menyentuh bibirnya dan kemudian diam dalam ciuman lembut sehingga menyebabkan Mak Iza mengeluarkan tertahan huhmmm!

Aku menggerakkan kepala sedikit ke atas dan bawah gerak, melumat bibirnya ketika kelopak matanya bergetar dan perkelahian tampak di wajahnya. Aku mundur, bibir kami berpisah pelanpelan, menunggu sejenak dan kemudian mendekat dengan bibir terbuka untuk mempertemukan miliknya dengan aku. Aku membelai lembut bibirnya saat ia mengeluarkan erangan lembut lain dan aku merasa ketegangan di wajahnya luruh ketika tekanan tangannya di dadaku melemah.

Aku mundur sekali lagi, sampai kami terpisah beberapa inci dan terfokus dalam di wajahnya. Dia memandangku terselubung di bawah kelopak mata, napasnya pendek dan cepat, bibirnya terbuka dan basah. Aku mulai membungkuk ke depan lagi, menjaga mataku pada bibirnya saat ia terusmenerus melirik dari mataku ke mulutku dan kembali lagi.

Ketika jarak kami hanya beberapa inci, Mak Iza menatap lurus pada bibirku dan mengerang pelan Oh, Budi!!.

Dia memiringkan kepalanya dan mulai menyamakan geraknya dengan bibir terbuka. Bersamasama kami menutup kesenjangan , dan kemudian masingmasing bibir menyentuh lembut dalam ciuman bergelora, ciuman penuh birahi!! Kami bertahan sesaat, merasakan ciuman yang menghalangi kami untuk bernafas dan bergerak! Lalu perlahan kami mulai menggoyangkan kepala, melumat bibir terbuka bersamasama, mengirimkan bungabunga api di antara kami ketika kami menekan mulut kita lebih tegas bersamasama.

Aku mengulurkan tangan dan meletakkan tangan di pinggang, menelusurinya naik dan turun di sisi dan kemudian secara bertahap menariknya ke arahku. Mak Iza tidak menunjukkan perlawanan, ketika ia tampak melayang melintasi jarak yang memisahkan kami hingga aku bisa merasakan payudaranya yang besar dan tangannya melekat di dadaku. Aku pindah tangan ke depan baju tidurnya, kemudian menyelipkan kedua tangan ke pinggangnya.

Aku lembut menariknya ke arahku, payudaranya menekan ke dadaku. Ketika kami melanjutkan ciuman, kepala kami bergerakgerak dalam tarian yang lambat penuh nafsu, aku merasa pelukan melingkar Mak Iza perlahanlahan mendaki dada dan bahuku sampai terbungkus erat di leherku. Tubuh kami saling menekan. Payudaranya semakin merapat ke dadaku, sementara selangkangan kami bersamasama menekan. Saat panas ciuman kami mulai naik, Mak Iza mengeluarkan jeritan tertahan dan bibir kami membuka satu sama lain dalam gelora tak terkendali.

Kepala kami lantas bergerak liar, seolaholah kami sedang mencari cara bagaimana agar mulut kami kian rapat. Tanganku naik turun ke punggung Mak Iza, menyentuh semua lengkungan yang pernah kubayangkan. Tanpa melepas ciuman, dalam satu gerakan aku menarik tangannya ke bawah dan menarik baju dari bahunya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Ia segera memeluk kembali leherku saat aku rapatkan tubuhnya kembali!

Aku bisa merasakan putingnya mengeras menusuk ke dadaku ketika tanganku melanjutkan penjelajahan tubuhnya. Aku sudah sangat bernafsu ketika bibir kami terus beradu bersamasama, kami berdua saling mengerang di mulut! Aku menggapai ke bawah dengan kedua tangan, memegang ujung baju tidurnya, dan menariknya sampai menutupi pinggang. Tanganku balas ke bawah, memegang kedua pipi pantat tertutup sutra, dan menariknya eraterat pangkal paha aku.

Uhhmmm !!!! dia mengerang, tapi tidak melepas ciuman!

Aku harus menyetubuhinya, sekarang, di mana saja! Aku segera meletakkan lenganku di bawah pahanya dan mengangkat ke pelukanku, cepat berjalan menyusuri lorong ke kamarku dan dengan lembut duduk di atas ranjang. Dia tampak sangat kusut, kedua matanya berkacakaca, mulutnya merah dan basah.

Dia menatapku.

Budi, kita nggak boleh, NGGAK BOLEH! ucapnya sambil bergeser ke tengah tempat tidur.

Aku mengulurkan tangan dan merangkak ke arahnya, menyambar lengan atasnya, lantas menarik Mak Iza dengan berlutut di atas ranjang. Saat kami bertemu di tengah tempat tidur, kami berdua berlutut, aku mulai merapat lagi. Lalu aku memeluk dan menatap matanya yang terbuka lebar berjagajaga.

Tidak Budi, tolong, biar Mak keluar saja, kita tidak bisa melakukan mmmppphhhh .! Aku memotong ucapannya dengan sebuah ciuman ketika mulut Mak Iza terbuka.

Dia berjuang beberapa saat ketika aku menciumnya dengan, dan kemudian Mak Iza luluh dalam pelukanku sesaat sebelum dia mulai mengerang lemah dan mulai kembali menyambut ciumanku. Perlahanlahan lengannya merayapi dada dan bahuku ketika ciuman berlanjut lebih hangat dan kian panas sampai kami berdua melayang sehingga kehilangan kendali dalam gairah menggebu.

Kami mengerang, mulut kami menyatu, berputar terhadap satu sama lain. Selangkangan kami saling melekat dan aku dapat merasakan birahiku mulai mendidih dalam kegilaan, ingin segera mengeluarkan penis. Aku meraih ujung daster Mak Iza dan mengangkatnya perlahanlahan melewati pinggul dan berhenti tepat di bawah pangkal lengan hingga payudaranya terbuka sudah.

Aku melirik ke bawah dan merasakan penisku bergerakgerak dengan denyutan keras. Tampak pula betis Mak Iza bagaikan padi bernas, pahanya montok namun lembut, dan pinggul seksinya yang masih terbalut celana dalam bermerek Bordelle. Aku tak sanggup menahan diri, langsung saja ku jelajahi paha dan meremas pinggulnya yang selama beberapa hari ini hanya menjadi khayalanku. Ya Tuhan betapa aku menginginkan perempuan yang tak pernah ku bayangkan sepanjang hidupku: mertua perempuanku!

Pinggul kami pun mulai bergerak, perlahanlahan, menyesuaikan dengan irama dan kecepatan ciuman kami. Tanganku naikturun di pinggul dan bokongnya, mencengkeran bulatan kembar yang masih terbalut celana dalam sutra itu. Selanjutnya tanganku mendaki hingga ujung daster yang sudah berada di pangkal lengan Mak Iza.

Aku bergerak mundur sedikit sehingga dapat menarik daster Mak Iza lebih tinggi melewati dadanya. Daster itu pelanpelan tanggal dari tubuh Mak Iza yang terasa hangat. Mulamula melwati payudaranya, putingnya yang mengeras, terus ke leher Mak Iza. Tampaklah dua payudaranya yang selama ini tersembunyi. Kini teah terbuka dan seakan mengundang aku untuk segera menyentuhnya. Kuning langsat seukuran melon namun sedikit rayud (menggelantung) dengan lingkar areola coklat bersemu merah. Alangkah indah.

Segera saja aku sergap bagian bawah payudara Mak Iza dan perlahanlahan bergeser ke atas, membelai satupersatu buah dada itu, hingga jarijariku sampai ke putingnya. Ku pilin dengan lembut masingmasing puting secara bergantian.

Mak Iza mengerang EEEHHMMMMM!! dan semakin mendorong payudaranya ke tanganku, masingmasing buah dada itu bergerak setiap jariku memilin putingnya seolaholah berusaha memuaskan rasa geli yang tertahan selama ini. Aku menghentikan ciuman dan menundukkan kepala ke buah dada sebelah kiri dan menangkap puting dan areola dalam mulutku dan mulai membasahinya dan merangsang puting Mak Iza dengan lidahku! Dia mengeluarkan erangan lain dan menyambar kepalaku dengan kedua tangannya, jarijarinya bergerak di rambutku.

Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, menariknya ke arahku, mendorong lebih dalam buah dadanya ke dalam mulutku dan mengisap putingnya lamalama. Tangannya terus bergerak dan menariknarik rambutku sambil mulutnya tak hentihenti mengeluarkan erangan lemah seperti menangis.

Tangan kiri Mak Iza kemudian meninggalkan kepalaku dan mengarah ke pinggangku, berhenti sejenak, kemudian raguragu meraih ke bawah bajuku dan membelai ringan dadaku. Ketika lidahku berpindah merangsang buah dada lainnya, tangannya lebih bebas menjelajahi tubuhku.

Tanpa menurunkan rangsangan di putingnya, aku menyambar daster yang masih melekat di lehernya dan menariknya lebih tinggi, membuat tangannya ikut naik dan membuat daster itu tanggal seluruhnya. Rupanya Mak Iza tak mau telanjang sendiri, karena setelah dasternya terlempar ke lantai, aku rasakan tangannya menariknarik kausku, memaksa aku melepaskan kulumanku di payudaranya. Setelah kuasku tanggal, kami saling bertatapan sejenak dalam keadaan telanjang dari pinggul ke atas.

Aku selipkan tangan di pinggulnya, sedangkan Mak Iza melingkarkan kedua tangannya di leherku, kemudian mulut kami kembali bertemu dalam ciuman yang kian menggelora. Sentuhan payudaranya yang tenggelam dalam dadaku membuat birahiku makin menggila dan kupikir lebih baik menyetubuhi Mak Iza secepatnya, atau aku akan muncrat di celana!

Tanganku lantas menjalar ke punggung Mak Iza, menyelinap melewati karet celana dalamnya dan menurunkannya hingga ke bawah bokongnya! Aku mengeluselus bokongbulatnya sebelum meletakkanl ibu jariku ke pinggang Mak Iza dan menarik celana dalam sutrake lututnya. Tanganku kembali naik ke paha dan pinggul, berlamalama sekali lagi di bokongnya sebelum berhenti di pinggangnya.

Aku memeluk Mak Iza, dan, tanpa perlawanan, kami berbaring di tempat tidur, payudaranya tenggelam di bawah dadaku, kakiku mengangkangi nya. Rupanya celanaku masih merepotkan, ku tarik saja dari pinggulku dan akhirnya membebaskan penisku yang sudah tersika sebelumnya. Sentuhan penisku di pahanya yang selembut sutra memercikkan sentakan birahi yang kian meluap dan erangan napsuku keluar tanpa terkendali.

Mak..

Namun, satu celana dalam lagi yang merepotkan, masih melekat di lutut Mak Iza. Maka aku letakkan kakiku di celana dalam mahal itu dan mendorong mereka hingga ke ujung kaki Mak Iza. Kembali lenganku ke pinggangnya dan berkonsentrasi penuh dengan ciuman kami, yang, dengan tubuh telanjang saling merangsang satu sama lain, berlanjut terus hingga puncak birahi kami.

Aku pun mulai menggeser bagian bawah tubuhku ke pahanya hingga penisku sampai di pangkal paha Mak Iza yang telah merentang. Burung itu kini sudah berada di muka sarangnya yang berbulu. Aku mulai menggerakkan penis, memberi isyarat memulai persetubuhan, hingga menyebabkan birahi kami kian mendidih. Kami samasama merintih ketika lengan kami saling mendekap tubuh satu sama lain.

Cerita Sex Mertua Mak Iza

Aku tahu saatnya telah tiba dan meraih selangkangannya serta mulai menenggelamkan jariku ke bibir vaginanya yang mekar seperti brownies matang. Terasa nian lubang kemaluannya sudah sangat basah tanda Mak Iza sudah siap menerima penisku masuk ke vaginanya.

Saat itu pula Mak Iza merintih, tangannya tak henti bergerak liar di punggungku. Aku pun tak ingin menunggu lagi dan segera mengeluarkan jariku dari lubang kemaluannya, langsung bersiap dengan penisku yang kian tegang di pintu masuk vaginanya yang menghangat.

Kepala penisku bersentuhan dengan bibir luar vaginanya yang basah dan membelahnya, sehingga aku masuk ke vagina hangat Mak Iza!! Aku segera tenggelam di saluran persetubuhan, kantung kelaminku pun sampai di celah pantatnya! Gelora birahi menyelimuti persetubuhan ini hingga kami menjepit satu sama lain bagaikan roti setangkup yang rapat.

EEEEHHHHMMMMMMMM !!!!! mulut Mak Iza merintih sambil melingkarkan kakinya ke pinggulku.

OH . Budi! ia setengah berteriak menghentikan ciuman kami.

Aku perlahan mulai memompa penisku di lubang Mak Iza dan menghisap lehernya dengan bergairah. Inilah saat yang aku idamidamkan, penisku tenggelam dalam tubuh Mak Iza , betis indahnya melilit kakiku, dan dadaku rapat dengan payudaranya! Persetubuhan ini sudah terpenuhi, dan meskipun aku hanya berada di dalam tubuh Mak Iza kurang dari semenit, aku tahu tidak bisa bertahan lebih lama. Aku terlalu menginginkannya, menyetubuhinya dengan sepenuh napsu!

Ketika aku mulai memompa batangku masuk dan keluar dalam entakan pendek, aku mulai merasakan getar di kakiku yang dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh. Pada saat yang sama bagian dalam selangkangan Mak Iza tak hentihenti berdenyutdenyut di sekitar penisku. Aku tahu, dia pun segera mencapai puncak persetubuhan ini sesaat lagi. Semua ini disertai oleh rintihan yang semakin sering dan bagaikan gelombang raksasa yang siap menghempaskan kami berdua.

Penisku terpaku dan tubuhku membeku saat merasakan aliran maniku mengalir dan meletup di ujung penis dalam orgasme yang belum pernah kualami seumur hidupku, terasa mulai dari tumit, bergerak ke semua arah dan akhirnya keluar dengan deras. Pada saat bersamaan Mak Iza menegang, merapatkan pinggulnya ke pinggulku, saluran vaginanya menjepit batangku, menerbangkan dirinya dalam orgasme yang sama kencangnya dengan yang ku alamm.

OOOOHHHHHHHH Budiiiiii ia berteriak menyebut namaku.

Ketika gelombang demi gelombang kenikmatan menggulung,, kami saling mencengkeram, mulut kamiterbuka lebar.

MAAAK Izaaaaaaaaa!!!!! aku berteriak.

Ku semprotkan mani di dindingdinding vaginanya yang mengisap liar batangku, bagaikan krim yang melepaskan dahaga birahi Mak Iza. Sensasi terus berlanjut, seolaholah aku mengalami orgasme selama berjamjam, sampai tetes terakhir keluar dari penis. Kami terus merengkuh erat satu sama lain sebagai luapan perasaan!

Ketika keintiman itu mereda, kami mencoba kembali bernapas teratur dan kembali ke kesadaran. Benak kami kembali ke kehidupan setelah klimaks meIzahkan. Ku lihat mata Mak Iza tertutup rapat, mulutnya terbuka, terengahengah. Perlahan aku berguling ke samping.

Ku pejamkan mata sejenak untuk beristirahat dan memulihkan kekuatan. Aku belum pernah merasa begitu Izah dan habis setelah persetubuhan seperti yang kulakukan barusan. Ini pasti karena dorongan, kerinduan, dan keinginan yang akhirnya mencapai puncaknya dalam waktu singkat namun intens dan paling meIzahkan. Aku menyetubuhi ibu mertuaku sendiri, perempuan yang benarbenar mengantarku ke puncak napsu yang tak kuketahui sebelumnya, yang membuat pengalaman meluapluap!

Aku membuka mata dan terkejut melihatnya menatapku, matanya penuh dengan air mata.

Budi senang ya sekarang? dia menangis.

Kita sudah mengkhianati orangorang yang paling berarti dalam hidup.

Untuk apa semua ini Mal? Supaya, kamu dapat menyombongkan diri ke temantemanmu berhasil meniduri mertuamu? Menambah rekor perempuan yang sudah kamu tiduri? Mak belum pernah merasa begitu kotor seperti sekarang! kata Mak Iza yang kemudian membenamkan kepalanya di bantal.

Aku tidak tahu bagaimana menanggapinya. Apakah Mak Iza benar? Apakah ini semua tentang penaklukan perempuan? Aku memandang ke arahnya dan menyusuri tubuh telanjang Mak Iza. Payudara besarnya tertangkup di kasur, putingnya menutupi seprai. Tapi aku masih dapat melihat perut rampingnya berlanjut ke pinggul lebarnya, paha mulusnya dan betisnya yang berisi.

Terlalu banyak yang membuatku takjub. Aku merasakan gerakan di selangkangan dan penisku mulai mengeras, semua hanya karena memandangnya. Aku kemudian menyadari bahwa ini lebih dari semata birahi, lebih dari sekadar bersetubuh. Aku punya perasaan tertarik yang nyata kepada mertuaku. Dia memicu sesuatu dalam diriku yang aku tak tahu ada, dan aku menginginkan dia lagi, tidak cuma menidurinya, tetapi ingin bercinta dengannya!!!

Aku menunduk dan berkata

Mak Iza, nggak begitu Mak. Aku, eh. aku nggak menganggap apa yang kita lakukan ini remeh. Sebenarnya selama beberapa hari ini aku merasa semakin tertarik sama Mak. Melihat Mak aja aku langsung pingin.

Pada saat aku berbicara dia mengangkat kepalanya dan memandang aku melalui matanya yang basah.

Aku tidak bisa menjelaskannya Mak, aku hanya terpikat karena Mak sangat memesona, menggairahkan dan aku hanya merasa terdorong mencoba lebih dekat sama Mak. Ketika kita.. melakukannya, benarbenar pengalaman yang sangat mendalam . Matanya berkedipkedip beberapa saat seakanakan setuju dengan katakataku.

Mak membuat aku tak sanggup menahan diri. Waktu aku melihat Mak di dapur tadi, aku tak mampu melawan keinginan itu. Aku sungguhsungguh menginginkan, pingin sekali sampai aku lepas kendali. Rasanya seperti mencoba untuk menolak sesuatu yang harus terjadi. Aku tidak sanggup Mak. Sekarang pun aku masih pingin

Kuarahkan bibirku menuju bibir Mak Iza dan mengecupnya lembut sementara ia menatap mataku. Kecupan itu berlanjut dan aku mulai menekan bibirku lebih kuat ke bibirnya. Ku dengar rintihan lembut keluar dari bibirnya. Aku melihat matanya mulai berkedipkedip saat dia mulai menyambut kecupanku dan, akhirnya menyerah.

Mak Iza memejamkan mata rapatrapat dan perlahanlahan lengannya beringsut sampai ke atas bahu dan leherku. Aku menyelipkan tanganku di pinggangnya, merapatkan tubuhnya ke arahku. Mak Iza membalas kecupanku dengan ganas, mulut kami pun bertemu, kepala kami bagaikan menari penuh birahi.

Kami kembali tenggelam dalam napsu yang meluapluap, seolaholah sudah berharihari tak pernah bersetubuh sejak yang pertama kali tadi. Entah berapa lama kami bermesraan hingga merasa kejantananku pulih. Aku bangga dapat mengembalikan gairah dalam beberapa menit, padahal biasanya aku baru siap untuk sesi kedua dalam satu jam atau lebih. Belum pernah dalam hidupku aku bisa pulih sangat cepat! Mak Iza dapat menyalakan gairah birahiku hanya dengan membiarkan aku melihat tubuhnya. Aku sadar tak dapat memperoleh yang lebih baik lagi.

Tubuh kami mulai bergesek satu sama lain, mengikuti irama ciuman kami, mengirimkan percikan birahi yang mengalir ke selangkangan kami. Aku tidak sabar dan cepat memosisikan diri di antara kakinya, menggerakkan penisku ke atas untuk menyentuh kelentitnya dan ke bawah berusaha membuka pintu gerbang vaginanya. sambil merintih satu sama lain.

Aku tekan pinggulku ke bawah, berhenti sejenak saat kurasakan kepala penisku tepat berada di lubang kemaluannya. Selanjutnya, perlahanlahan aku menenggelamkan penisku sekali lagi ke saluran yang terasa hangat itu. Bercampurlah gabungan sisasisa air maniku di vaginanya dengan cairan kental Mak Iza yang hangat di penisku yang kian lama semakin dalam.

Aku sampai ke ujung vaginanya dan mulai memompa keluar masuk dengan pelan sementara Mak Iza menggerakkan pinggulnya. Tangannya mencengkeram lenganku dan Mak Iza menggulung kakinya di selingkar pinggangku. Kami menyudahi ciuman dan Mak Iza dia sejenak namun segera merintih seolaholah kepedasan.

Oh, Buuuudiiiiiiiii! Oh oh oh! ia seperti menjerit.

Aku juga merasakan yang sama kuat dan mulai merintih juga

Maaaak. Mak apakan aku Maaak!!!. aku merintih sambil merasakan nikmat persetubuhan.

Aku mengecup leher dan telinga Mak Iza, mencoba untuk mengendalikan desakan kuat di pangkal penisku. Bibirku menyapu pipinya hingga bibir basah kami bertemu satu sama lain. Kami lantas memulai gerakan lambat menyenangkan, penetrasi sensual yang sesuai dengan irama ciuman yang mendalam penuh perasaan. Rasanya kali ini adalah persetubuhan paling bergelora dalam hidupku saat kami menggigil dan merintih. Mak Iza mengangkat pinggulnya setiap saat menyambut penisku masuk. Setelah penisku tenggelam, vaginanya menjepit dan melepas penisku yang berdenyut.

Itu terus berlanjut. Tak satu pun dari kami ingin keintiman ini berakhir saat kami melekat satu sama lain, menggerakkan pinggul kami satu sama lain dalam persetubuhan ini! Tibatiba aku merasa sesuatu memicu percikan di pangkal selangkang dan mendaki ke kepala penis, memperingatkan bahwa aku akan kehilangan daya tahan.

Aku mempercepat gerakan sedangkan Mak Iza mengiba dan mendesah kenikmatan. Pinggul kami terus saling menyambut satu sama lain. Ketika aku merasakan aliran maniku tak tertahan lagi, vagina Mak Iza seperti menjepit penisku, mencengkeram dengan pagutan yang lentur!! Mulut kami berpisah ketika punggung Mak Iza melengkung dan kami berdua mengeluarkan jeritan tertahan.

Penisku memuntahkan gumpalan demi gumpalan jauh ke dalam tubuh Mak Iza. Terasa vagina Mak Iza mencengkeram, dan memerah semburan maniku! Kami saling berpegangan eraterat, bergetar dalam hempasan orgasme yang meluap! Lama setelah aku berhenti penisku terus bergerakgerak, dan berdenyut, mengirimkan guncangan lembut di kedalaman vagina Mak Iza, membuatnya bergetar di sekeliling batangku, dan sebaliknya mengentakkannya. Terlalu nikmat untuk bergerak saat itu, sehingga kami terus saling mendekap satu sama lain, menyusuri akhir luapan birahi.

Ketika akhirnya semua mereda kami melonggarkan dekapan satu sama lain dan perlahanlahan melandai, Aku masih berada di atas tubuh Mak Iza.. Napas kami berat dan tertahan. Pandangan kami masih meremang, akibat dorongan napsu yang terlepaskan. Aku menarik kepala dari lekuk leher Mak Iza dan menatap wajahnya. Mak Iza melakukan hal serupa.

Aku pikir kami berdua merasakan hal yang sama, rasa saling terikat kuat yang mengantar kami ke situasi yang belum pernah kami alami sebelumnya. Perlahanlahan aku menurunkan kepala dan dengan lembut menekan bibirku ke bibirnya. Mak Iza melingkarkan kedua tangannya di leherku dan membalas ciumanku.

Ciuman ini, meski tanpa birahi, yang baru saja terpuaskan, ternyata lebih dalam, lebih bersemangat, dan lebih mesra ketika mulut kami menyatu selama beberapa menit. Aku bisa merasakan cairanku dan Mak Iza yang telah bercampur keluar dari vaginanya dan menggenang di bawah kami saat kami terus berciuman, penuh kasih, lembut, menyentuh mulut kami satu sama lain.

Akhirnya aku merasa penisku terlepas dari vagina hangat Mak Iza saat kami berhenti berciuman. Setelah itu kami berbaring berdampingan, tertidur.

Aku terbangun dari dengkuran oleh gerakan Mak Iza yang tergesa turun dari tempat tidur dan meraih dasternya di lantai. Aku mengangkat kepalaku dan hendak berbicara ketika dia menatapku, cepatcepat menurunkan mata dalam perasaan bersalah.

Bapak akan segera pulang Aku harus mandi dan berganti pakaian. katanya.

Dengan itu dia pergi, meninggalkan aku sendirian. Aku bertanyatanya apakah ini akan menjadi yang terakhir kalinya bersamanya di tempat tidur? Tapi aku segera menyadari bahwa aku juga harus mandi dan berpakaian serta datang ke RS, karena hampir tengah hari.

Saat aku selesai berpakaian aku mendengar bapak mertuaku datang dan menuju ke ruang tamu tempat aku dapat mendengar percakapannya dengan Mak Iza. Ketika aku siap berangkat, aku masuk ke dapur dan melihat bapak sendirian membaca koran. Dia bilang Mak Iza masih berkemas, mereka akan menemui aku dan Titin di RS. Berarti aku akan pergi lebih dulu.

Aku sudah sekitar satu jam di RS dengan Titin dan bayinya ketika kedua mertuaku tiba. Mak Iza mengenakan blus tangan pendek bergarisgaris biru dengan kerah lebar yang memperlihatkan sebagian bahunya. Setelannya adalah rok putih berlipit. Dia menghindari kontak mata dengan aku, seakan menganggapku tak ada di ruang perawatan Titin, akibat perasaan bersalahnya yang begitu besar.

Mak Iza dan Bapak mertuaku duduk berseberangan di ujung tempat tidur, bercakap dengan Titin yang berada di sampingku. Sementara Bapak berada di seberang, Mak Iza tepat saling berhadapan denganku. Selama percakapan mereka, Mak Iza menyilangkan kaki, menyebabkan roknya tertarik ke atas. Saat aku menatap mataku terhenti di pahanya yang sedikit tampak.

Namun itu saja sudah terlalu terlalu banyak mengingat hanya beberapa jam lalu aku telah berbaring di antara kedua rentangannya, memompa penisku sampai aku meledak jauh di dalam dirinya! Aku merasakan gerakan yang akrab dalam celanaku dan berlanjut dengan keinginan menyetubuhi ibu mertuaku sekali lagi! Dengan keputusan dokter untuk mengirim Titin dan bayi pulang besok, aku benarbenar tertekan untuk berpikir mungkin aku hanya bisa sekali saja menyetubuhi ibunya.

Aku perlu keluar sebentar, jadi aku bilang ke Titin mau mencari makanan kecil di luar. Aku akhirnya berjalan di jalanjalan di sekitar RS seperti anak yang mabuk cinta, mencoba berpikir apa yang akan aku lakukan dengan keinginan menyetubuhi Mak Iza. Setelah berpikir selama beberapa waktu, aku menyadari bahwa aku masih mencintai isteriku dan kehidupan yang akan kami miliki dengan bayi, dan aku harus menghentikan pikiranpikiran birahiku terhadap ibu mertua. Lagi pula, toh setelah ini mertuaku akan kembali ke kota asalnya, entah kapan kami bertemu lagi.

Aku berjalan kembali ke RS dan menemukan bahwa mertuaku pergi berbelanja untuk persiapan pulang ke rumah. Aku masih agak lama di RS menggendong bayi dan menghabiskan waktu dengan isteriku. Aku ingin mereka segera pulang dan kembali ke kehidupan keluarga seperti sedia kala, termasuk menyetubuhi isteriku lagi!

Aku duduk di tempat tidur dengan Titin, yang menggodaku dengan mengingatkan bahwa kami masih 5 minggu lagi hingga bisa berhubungan seks lagi! Hebat kali, pikirku, tidak ada persetubuhan dengan isteri maupun ibu mertuaku yang masih seminggu lagi di rumah akan membuatku gila. Aku akan menghabiskan lebih banyak waktu di kamar mandi dengan sabun!

Nah, menjelang makan malam aku sampai di rumah dan menemukan mertuaku di dapur mempersiapkannya. Mereka telah berbelanja bahan makanan dan membeli perlengkapan dan pakaian untuk bayi. Bapak mertuaku memberi salam biasa dan Mak Iza hanya menatapku dan memberiku senyum tertahan yang membuatku sedih. Ini akan menjadi malam panjang yang menyusahkanku. Aku putuskan duduk di ruang tamu dan membaca koran, sementara mereka menyiapkan makan malam bersama.

Sebelum meninggalkan dapur, aku tidak bisa menahan diri untuk mencuricuri pandang ke Mak Iza, mengawasinya membungkuk untuk mengambil panci dan membuat mataku membuka lebar menatap bokong bulat dan betisnya yang berisi. Aku merasakan denyut nadi aku memnderu dengan melihat pemandangan itu. Langsung saja aku cepatcepat pergi ke ruang tamu, tenggelam membaca koran.

Sekitar setengah jam kemudian Bapak mertuaku bilang makan malam sudah siap dan aku melempar koran ke samping dan membayangkan posisi kami masingmasing di meja makan. Bapak mertuaku dan aku saling berseberangan, dan Mak Iza di tengah, tidak ada yang banyak berbicara, hanya sibuk mengurusi sajian makan malam.

Tapi kadangkadang nasib memainkan perannya dalam halhal tertentu dan menawarkan kesempatan yang semula tak terbayangkan. Saat aku berjalan ke meja. Bapak telah mengambil tempat duduknya di satu ujung dan Mak Iza meletakkan piring ke tempat biasa, di kiri Bapak.

Namun, mereka telah meninggalkan semua tas belanja di kursi yang lain kecuali satu di sebelah Mak Iza! Bapak menawarkan untuk memindahkan barang belanjaan itu ketika aku sampai di sana, tapi aku mengatakan bahwa itu tidak perlu dan aku duduk tepat di sebelah Mak Iza, yang membuatnya sangat terkejut!

Kami mulai makan dan Bapak mertuaku paling banyak berbicara, sedangkan Mak Iza mengangguk atau menggelengkan kepala kepad suaminya, tetapi tidak pernah menganggap aku ada di sana. Pada satu titik aku melirik ke bawah dan melihat paha krem Mak Iza. Selama makan malam itu aku terus mencuri pandang ke paha itu, berhatihati agar tidak ketahuan.

Namun aku kehilangan kendali dan menyerah pada keinginan menyentuhnya. Aku biarkan tangan kananku turun ke pangkuanku dan kemudian perlahanlahan merayap ke samping kursi dan kemudian ke pinggir kursi Mak Iza,, sambil mengamati mereka berdua. Mereka tengah membicarakan murahnya barangbarang belanjaan yang mereka beli dan tak memperhatikan aku.

Ujung jariku menyentuh paha putih Mak Iza, dan penisku tersentak di celana sementara Mak Iza menghela napas tibatiba! Bapak bertanya apakah dia baikbaik saja dan ia berpurapura dengan mengatakan agak kedinginan dan mencoba santai ketika tanganku menjelajahi pahanya ke atas hingga menyentuh kelentitnya. Rasanya begitu lembut dan halus. Aku juga jadi tahu dia telah mencukur bulu vaginya tadi. Sebuah bayangan di benakku membuat penisku menyentak lagi.

Mak Iza berjuang untuk kembali tenang dan berusaha bersandar menjauh dariku untuk melepaskan diri dari penjelajahan tanganku, namun siasia belaka. Dia mencoba menyilangkan kaki, tapi itu hanya membuka bagian bawah pahanya dan membawa jemariku dekat dengan gundukan browniesnya, yang mulai memancarkan kehangatan. Bapak mertuaku bilang dia ingin membuat kopi dan segera bangkit berdiri. Sedangkan aku terpaku dengan tangan di paha Mak Iza. Saat Bapak mertua meninggalkan kami, Mak Iza menepis tanganku, menatapku dengan kesal.

Apakah kamu sudah gila ???!!! bisiknya, kesal. Kita bisa ketahuan dan kehilangan semua yang kita sayangi!! Sekarang hentikan!!!

Ia membanting tanganku kembali ke pangkuanku dan berdiri dengan piringnya untuk pergi ke dapur. Aku duduk di sana dan berpikir tentang apa yang dikatakannya. Aku pikir bahwa ia jelas takut hal ini akan merusak keluarga kami. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, jadi aku pun membawa piringku ke dapur dan setelah itu kembali ke ruang tamu menyalakan tv. Mertuaku duduk di meja minum kopi dan berbincang ringan untuk sementara dan akhirnya Mak Iza berdiri meninggalkan ruangan.

Dari tempatku duduk aku mendengar Mak Iza memasuki kamar mandi dan segera pula terdengar gemercik air yang keluar dari keran, sementara bapak mertuaku bergabung denganku di ruang tamu. Kami tidak banyak bicara satu sama lain, sebagian karena dia sedang membaca majalah dan sebagian karena aku merasa sedikit bersalah. Maksudku, apakah aku harus katakan kepadanya, Wah, Mak Iza sangat hebat ketika bercinta, apakah Bapak keberatan jika aku melakukannya lagi?

Sebenarnya aku dan Bapak mertuaku sebelumnya pun jarang mengobrol lama, tapi sekarang agaknya semua lebih sulit. Kami duduk selama beberapa waktu, dia membaca dan aku menonton tv sementara aku mendengar Mak Iza keluar dari kamar mandi dan pergi ke kamarnya. Jelas setelah beberapa saat bahwa Mak Iza tidak akan bergabung dengan kami dan dalam waktu singkat Bapak mertuaku bangkit, mengucapkan sampai besok dan pergi tidur.

Aku menonton beberapa film sesudah itu, tapi tidak bisa benarbenar berkonsentrasi, jadi aku menyerah dan pergi tidur. Aku hanya bisa berbaring selama lebih dari satu jam, membayangkan ulang peristiwaperistiwa hari ini di benakku, terutama waktu yang dihabiskan dengan ibu mertua pagi ini. Kantuk datang perlahanlahan, terasa lebih sulit dengan penis yang mengeras, tapi akhirnya aku tertidur.

Aku terbangun tengah malam oleh suara derit pintu kamarku ketika terbuka. Aku memang mudah terbangun dari tidur jika ada bunyibunyian, sehingga tidak perlu repot membangunkan aku. Ku lirik jam dan tampak angka 1:44 dan kemudian menoleh ke pintu, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan. Aku berusaha tahu apakah seseorang benarbenar datang atau pintu hanya kebetulan terbuka tanpa sengaja. Aku bisa melihat satu sosok melewati kusen pintu dan diamdiam menutup pintu di belakangnya .

Sebagian besar kamarku disinari oleh pendar cahaya bulan yang menembus tiga ventilasi di sepanjang dinding, kecuali sosok dekat pintu itu yang tetap dalam bentuk bayangan. Perlu beberapa saat untuk siapa pun berjalan dalam remang cahaya bulan. Sesaat aku khawatir seseorang mungkin telah menyelinap dan mencoba merampok aku! Ketakutan itu menghilang ketika sosok itu berjalan menuju tempat tidur dan aku bisa melihat dengan jelas bahwa itu adalah Mak Iza! Ketika ia sampai di sisi tempat tidurku aku duduk tegak, menatapnya.

Mak Iza Kenapa Mak ke sini? Aku bertanya dengan nada lirih.

Dia memandangku dengan ekspresi sedih.

Budi, maafkan Mak, Mak Mak tak bermaksud mengagetkan kamu, katanya

Mak uhm Mak tidak bisa tidur. Mak belum bisa melupakan yang siang tadi.

Mak.. Mak sangat malu tapi . Mak tidak bisa menahan Menahan itu

Dia menunduk. Namun tangannya malah menanggalkan daster, menyebabkan tubuhnya telanjang dalam siluet remangremang. Tak ayal penisku langsung menegang saat ia menarik daster dari bahunya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Dia berdiri di hadapanku, cahaya bulan menerangi tubuhnya. Payudara besar dengan putingnya yang tegak di ujung, pinggul demplonnya yang seperti biola bagaikan membingkai selangkang berambut tipis karena sudah dipangkas mengarah ke pahanya yang selembut sutra serta betis berisi itu! Jakunku bergerakgerak sejenak kemudian aku ulurkan tangan untuk meraihnya.

Dia menatapku sejenak dan kemudian berseru,

Oh, Budi. Ia menggenggam tanganku saat aku bergegas menariknya ke tempat tidur.

Lengannya menuju lingkar leherku ketika tanganku memeluk pinggangnya. Bibir kami yang terbuka bertemu untuk saling melumat dalam ciuman hangat! Kami langsung terpelanting ke ranjang, aku di atas, tenggelam oleh gairah menyala, mendekap satu sama lain dengan sangat ketat. Mulut kami bergerak bersama, bergesekan satu sama lain.

Penisku yang tegang telah melekat di browniesnya yang kuyup saat kami terus meraba satu sama lain, tangantangan liar kami saling membelai, mengobarkan nafsu yang kian menyalanyala. Seperti sebelumnya, aku tidak lama bertahan dan merasa akan segera meledak berkepingkeping di atas tubuh Mak Iza.

Aku mengangkat pinggul dan merasakan kepala penisku melintang di bibir vagina Mak Iza yang telah mekar. Segera aku bersiap memompa di pintu masuk saluran yang hangat itu! Aku dorong sedikit penisku dan merasakan dinding kelamin Mak Iza yang lembut menjepitnya, melumuri penisku dengan cairan vaginanya, hingga gembung kantung zakarku menyentuh bokongnya.

Setiap ujung saraf tubuh menjadi aktif saat aku perlahanlahan memompa penisku masukkeluar dari cengkeraman hangat vagina Mak Iza. Tubuhnya menggelinjang di bawahku, kadang menggelepargelepar kadang mengejang.

Aku menghentikan ciuman dan merambah payudaranya, menggilirnya satu demi satu, mengisap putingnya yang runcing di antara gigigigiku dan Melumat areolanya dengan lidahku! Ini membuat birahinya semakin tinggi sehingga vaginanya kian lahap mengisap penisku yang semakin geli, menjepitnya erat setiap bergerak masuk dan keluar!

Kami mulai merintih bersamasama ketika dindingdinding vaginanya terus menggenggam dan memijat erat penisku di kedua belahan vaginanya!

Sungguh mengherankan rintihan dan erangan pada saat gairah birahi kami semakin mendekati puncaknya tidak membangunkan bapak mertuaku. Lantas aku bisa merasakan mani putih dan hangatku dalam kantung zakar mulai menyentak liar di kedalaman, sementara pinggul Mak Iza mengayak.

Dekapan kami terasa kian erat, dan ku rasakan penisku bergetar tak terkendali, dan kian mengeras ketika menyemprotkan gumpalan mani di dindingdinding dalam vagina Mak Iza! Mulut Mak Iza terbuka menahan suara di puncak birahinya ketika vaginanya menghisap maniku, membuat kami melayang tanpa sadar menuju kenikmatan persetubuhan yang dalam.

Orgasme kami berlanjut dengan hisapan vaginanya hingga muntahan air maniku terhenti. Pada akhirnya semua tuntas dan aku berguling ke sisi Mak Iza. Tinggallah kini napas kami yang masih terengahengah di ujung orgasme yang luar biasa.

Ada sekitar 15 menit sebelum salah satu dari kami dapat berbicara. Akhirnya Mak Iza memandangku dan memecah keheningan.

Ini yang terakhir kayaknya ya Mal. Karena Titin pulang besok, kita nggak punya kesempatan lagi. Kita harus menganggapnya sebagai masa lalu.

Aku tak berkata apaapa saat ia melanjutkan.

Kamu memberiku pengalaman paling luar biasa dalam hidup aku dan aku akan selalu menghargai dan mengenangnya, tapi aku tidak bisa menyakiti anakku dengan cara ini. Kamu mengerti kan Mal?

Dia tersenyum padaku, membungkuk dan dengan lembut mencium bibirku lalu bangkit dan mengenakan kembali dasternya. Aku memikirkan apa yang dikatakannya dan menyadari bahwa dia benar dan berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan melakukan sekuat tenaga untuk berkonsentrasi pada Titin dan bayinya dan menyimpan perasaan terhadap Mak Iza serta memperlakukannya dengan benar. Maka Mak Iza pun kembali ke kamarnya.

Hari berikutnya adalah tergesagesa pergi ke rumah sakit dan menemui Titin beserta bayinya. Kami membawa mereka pulang, bertemu dengan semua teman dan kerabat yang berkunjung ke rumah dan menyiapkan segala macam keperluan bayi.

Dengan begitu aku hanya ala kadarnya memerhatikan Mak Iza dan apa yang ia kenakan. Toh aku telah bersumpah kepada diri sendiri untuk menempatkan dirinya ke dalam situasi yang tepat.

Di petang yang tenang, kami semua duduk di ruang tamu. Bapak mertuaku mencoba untuk menimang bayi, sedangkan Titin berbaring di sofa, dan aku duduk di dekat kakinya. Mak Iza berada di kursi dekat kepala sofa. Untuk pertama kalinya hari ini aku menyadari betapa menyenangkan melihatnya dalam blus lengan pendek yang berkancing di bagian depan.

Dia duduk di kursi dengan kaki disilangkan. Ketika aku mengamati ke bawah, paha yang tertutup itu ternyata membuatku tegang! Aku duduk di sana, menatap kaki dan pahanya saat aku merasa gerakan di dalam celana dan detak jantungku yang berdegup lebih kencang. Aku menyadari berdekatan dengan mertua perempuanku ini hanya membuatku terangsang!

Setelah beberapa saat, Mak Iza bilang ia akan menyiapkan makan malam dan menyarankan Titin tetap berbaring memulihkan tenaga. bapak menawarkan bantuan, tapi ia menolak sambil mempersilakannya menimang bayi dan bekerja di dapur sendiri. Dengan itu dia bangkit dan pergi ke dapur, kemudian kami bisa mendengar panci dan wajan serta peralatan dapur beradu ketika Mak Iza bekerja.

Aku menunggu beberapa saat, mengawasi Titin yang saat ia tertidur. Ku nyalakan tv sehingga Bapak dapat mengurus bayi sambil menonton. Setelah itu aku bilang kepada Bapak akan pergi dan melihat mungkin Mak Iza membutuhkan bantuan, yang langsung disetujuinya.

Ketika aku tiba di dapur, Mak Iza berdiri di tengah meja dapur membelakangiku, sedang berbenah di sana.

Pelanpelan aku berjalan sampai berada tepat di belakangnya. Begitu dekat hingga ujung rambutnya menggelitik daguku. Sejurus kemudian aku melingkari pinggangnya, mengarahkan penis tegangku ke celah roknya yang menutup bokong. Lantas aku langsung mencium sisi lehernya. Mak Iza mengeluarkan jeritan tertahan dan menghindarkan diri agar tak terdengar seisi rumah.

Dia meraih tanganku dengan lemah, berusaha melepaskan belitan di pinggangnya dan menoleh ke arah aku.

Budi!! Apakah kamu gila ??!! ia bertanya dengan nada berbisik.

Nanti ada yang lihat!!! Lepaskan Mak!!!

Aku terus menimpa lehernya dengan lidahku, sambil menekuk tubuhnya dari belakang.

Eh, eh! Aku menjawab permintaannya, saat aku merapatkan selangkanganku sedikit lebih keras ke bokongnya.

Tanganku merayap ke atas tubuhnya sampai aku menyentuh payudara dan mulai memijat perlahanlahan dari luar blusnya. Mak Iza mengeluarkan rintihan dan sedikit memalingkan kepala ke arahku, lebih dari cukup untuk mendekatkan bibirku ke bibirnya.

Aduh Buuuddd! ia mengeluh ketika pinggulnya mulai bergerak, sedikit menggosok pantatnya kembali terhadap penisku yang menggembung.

Ia enggan menyerah, mencoba melepaskan tanganku dari payudaranya dan segera mendorong keraskeras .

Ketika ia mulai terangsang seperti aku, Mak Iza mulai terengahengah

Oh, Budi . gimana kalau kita ketahuan? Kenapa Budi ini!

Dia benarbenar menggoyang bokongnya ke arahku dan aku tahu tidak akan ada lagi perlawanan dari Mak Iza. Aku segera melepaskan payudara dan membuka kancing bajunya, menariknya terpisah, merabaraba dan berusaha melepaskan kaitan braa hingga aku dapat menyentuh dua buah dadanya. Lantas aku mulai memilin putingnya yang sudah mengeras. Kepalanya bersandar di bahuku ketika aku melanjutkan dengan menggesek penisku yang bergetar keras di lingkar bokongnya.

Mulutku menyusuri lehernya berlanjut ke telinga dan serentak iamenoleh dan, dan bersusah payah untuk berciuman! Lengan kirinya merayap di bahu aku dan tangannya meraih bagian belakang kepalaku, menariknya ke arahnya. Mulutku langsung melumatnya dan Mak Iza mengeluarkan erangan tertahan.

Tanganku kemudian meraba buah dadanya yang berdebar, bokongnya bergerakgerak mengimbangi gesekan penisku ketika mulut kami saling melumat! Aku lepaskan payudara dari genggaman dan dengan satu tangan membuka kaitan celanaku. Ku tarik celana dalamku ke bawah untuk mengeluarkan penisku, sementara dengan tangan yang lain mengangkat rok sampai pinggang dan celana dalamnya yang melekat sementara pinggulnya berputarputar. Aku menghentikan ciuman dan menarik pinggulku ke belakang, membiarkan penisku meluncur di celah bokongnya melewati lubang kencingnya dan melekat di pintu masuk vaginanya yang menghangat!

Alihalih menahan diri, aku melajukan penisku menempel bibir basah dan memasuki saluran kemaluannya yang berkedut. Saat aku meraih payudaranya yang menggelembung, meremasnya sementara batangku masukkeluar di vaginanya, Mak Iza menggigit bibir bawahnya dan menggerakkan bokongnya ke arahku pada setiap entakan, sambil merintih dalam nada tertahan.

Uhgh Ugh Ugh !!! Mak Iza merintih setiap aku menyorongkan penis ke dalam vaginanya.

Dua sikunya menekan meja, sedangkan kedua tangannya melilit leherku dan menarik kepalaku turun ke pangkal lehernya. Aku mengisapnya, terus memompanya dari belakang, saat kami menemukan paduan gerak yang pas untuk entakan. Kami pun merintih bersamasama! Dengan segera kami ingin mencapai akhir agar tak ketahuan. Gerakan aku dan Mak Iza kian cepat dan kami saling mencengkeram dalam posisi doggy menuju orgasme!

Aku merasakan penisku siap memuntahkan benih ketika pompaanku kian kencang. Pada saat yang sama vagina Mak Iza pun mulai mengeluarkan reaksi yang sudah kuketahui sebagai pertanda ia akan segera klimaks: mengisap batangku dengan ketat. Dia mencengkeram kepalaku ketika vaginanya mengisap sperma yang keluar dari kepala penisku. Pada saat itu bapak mertuaku memanggilnya sehingga dia tersentak ketika mendengar suara suaminya.

Mencapai orgasme sambil menyahut panggilan suaminya, Mak Iza berteriak

Yaaa!! saat seluruh tubuhnya mengejang dan aku menyemprotkan sperma menuruni dinding rongga dengan gumpalan putih hangat itu!!

Kami berdua mengejang saat orgasme berlangsung, selangkangan Mak Iza melepas dahaganya dengan muntahan spermaku! Kami memegang satu sama lain sementara gelombang demi gelombang menghempaskan kami, menguras tenaga. Saat mereda, penisku berhenti memuntahkan sperma, mengecil dan keluar dari lubang Mak Iza yang kuyup. Kami masih melekat satu sama lain.

Sekali lagi bapak mertuaku memanggilnya dan dia cepat menoleh kepadaku dengan mimik terkejut di wajahnya. Mak Iza buruburu membereskan pakaiannya, sedangkan aku menarik celana dan menutupnya. Begitu beha dan blusnya sudah rapi, Mak Iza masih merapikan rambutnya, mengusap wajahnya dengan kain serbet di dekatnya, dan bergegas menuju ruang tamu. Aku mengikutinya dengan berjalan dan ku lihat Mak Iza mengambil bayi sehingga Bapak bisa bangun. Titin pun hendak bangkit dari sofa tempatnya berbaring. Hampir saja!

Sisa petang itu berlangsung lancar, meskipun Mak Iza berhasil membuatku merasa bersalah dan kemudian pergi berganti pakaian, mungkin untuk membersihkan bagian bawahnya. Pelajaran yang kupetik, suka atau tidak, aku tidak mampu berada di sekitar ibu mertua tanpa ingin bercinta dan mengabaikan janji kepada diri sendiri ! Tentu saja aku tidak tahu apakah ia merasakan hal serupa.

Keesokan paginya kami semua bangun dan sarapan bersama. Bapak bilang akan keluar berjalanjalan pagi seperti biasanya, sementara Titin mengatakan bahwa ia akan ke RS untuk pemeriksaan dan vaksinasi bayinya. Aku menawarkan diri untuk pergi bersamanya, tetapi ia mengatakan pemeriksaan itu cuma sebentar, tidak akan lebih dari setengah jam, jadi dia akan pergi hanya dengan bayinya.

Yang akan pergi dari rumah bergegas setelah sarapan. Kemudian setelah Titin dan bapak mertuaku meninggalkan rumah, saat itulah aku mendengar suara shower dan menyadari Mak Iza dan aku sendirian selama sedikitnya setengah jam. Langsung saja penisku mengeras!

Aku berjalan menuju pintu kamar mandi dan hendak masuk ketika aku pikir waktu itu dari dan segera berlari ke kamarku untuk mempreteli pakaianku. Aku kembali mendekati kamar mandi, telanjang bulat dan ngaceng sengacengngacengnya! Aku diamdiam membuka pintu dan melangkah masuk ke kamar mandi dan bisa mendengar Mak Iza bersenandung di balik pintu kaca buram.

Aku perlahanlahan menggeser pintu kembali dan melangkah. Ketika aku merapatkan pintu, suaranya cukup keras dan Mak Iza segera berbalik dengan sedikit terkesiap.

OH!! ia berseru.

Kami saling memandang sejenak dan kemudian dengan cepat merapat, ia memeluk leherku dan aku melingkari pinggangnya, bibir kami dengan cepat bertemu dengan penuh gairah, ciuman kerinduan! Suara gairah kami benarbenar memantul di dinding kamar mandi, bagaikan dua orang kelaparan menemukan hidangan kesukaan.

MMMMMMMMMMHHHHHHMMMMMM !!!! Kami merintih saat berciuman tergesa.

Tangan kami bergerak liar satu sama lain ketika aku menarik Mak Iza ke dinding kamar mandi. Tanganku segera meraih bokongnya, meremas sejenak dan kemudian mengangkatnya, menggesekkan penisku di perut dan selangkangnya, serta merapatkan punggungnya ke dinding.

Dia melingkarkan kakinya di pinggangku saat aku perlahan mulai menurunkan tubuhnya ke penisku yang menunggu. Pada sentuhan pertama kepala penisku di vaginanya, kami berdua mengerang keras dan aku segera menancapkan penisku sepanjang jalan masuk vagina sempitnya sampai aku menyentuh bokongnya. Ku benamkan kepalaku di dadanya, kami berdua saling berpegangan erat.

OOOOOOOOOOOHHHHHHHHH !!!!!!! kami merintih saat ujung penisku menyentuh pangkal vagina dalam tubuh Mak Iza.

Aku mulai mengangkat tubuhnya lagi dan Mak Iza membantu dengan mengangkat pantatnya ke atas dan ke bawah, tangannya dengan liar mengacak rambutku dan mencium wajahku. Ketika kami menemukan ritme yang pas, batang penisku memompa vaginanya yang hangat. Mata Mak Iza terpejam rapat dan ia mulai merintih mengiringi irama gerak tubuh kami.

Ooouuuhhh . Budi! OOOccccHHHH!! OOOOcccHHHH! Budi OOOccccHHHHHH l!! .. Mak baru tahu sambil berdiri itu enaaaak!!!!!

Jelas bahwa suara perempuan dalam persetubuhan akan kian merangsang Izaki, tak terkecuali aku. Antara ucapannya dan seluruh adegan persetubuhan dengan mertuaku di kamar mandi sudah terlalu banyak merangsangku. Aku langsung merasa akan segera meletup.

Aku memeluknya eraterat bokongnya dan berteriak,

Mak Izaaaaa aku mau sampai!!!

Ia mencengkeram belakang leher dan berteriak kembali, OH Budi!! Mak juga. Mak juga mau sampai!!!

Kami berdua meledak dalam orgasme yang melumpuhkan kesadaran. Penisku menyemprot dengan deras, memuntahkan tetes demi tetes mani matang ke celah vaginanya yang mengisap spermaku hingga kering. Kami berteriak, melenguh kesedapan ketika menikmati sensasi yang merambat senti demi senti tubuh kami.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Ini tampaknya menjadi orgasme paling kuat kami sejauh ini. Aku yakin sebagian besar karena akhirnya kami menyerah pada napsu birahi dan menyadari terlalu lemah untuk melawannya. Kami berpelukan dalam posisi berdiri, berciuman penuh gairah, seakan tak akan terpisah selamanya, sampai aku merasa punggungku pegal dan menyerah sehingga aku harus mengecewakan Mak Iza yang masih ingin ku pangku.

Dia meluncur ke bawah badan dan berdiri dengan kakinya, tapi kami tidak pernah melepas rangkulan. Kami meneruskan berciuman penuh nafsu namun lebih lembut, lebih kuat, lebih penuh perasaan, sepertinya di antara kami tak ada yang ingin ini berakhir!

Kami saling menumpahkan perasaan mendalam, saling merasa menjadi milik satu sama lain dan berjanji akan bersetubuh sembunyisembunyi lagi, setiap ada kesempatan! Akhirnya kami mandi bersama dan mengeringkan diri satu sama lain. Ketika berganti pakaian sebelum Titin datang, aku dan Mak Iza membicarakan kelanjutan hubungan ini dan mengakui tak sanggup menyangkal perasaan tertarik satu sama lain. Kami memutuskan bahwa selama tidak ada yang terluka, tidak ada yang mengetahui, ini akan berlanjut.

Kami baru selesai berganti pakaian ketika Titin tiba di rumah. Sisa hari itu kami habiskan bersama dengan baik, walaupun tidak ada kesempatan bagi Mak Iza dan aku menyelinap untuk bersetubuh kembali.

Harihari terakhir kunjungan mertuaku berjalan lebih lancar. Mak Iza dan aku menemukan beberapa peluang untuk memisahkan diri dan bercinta dengan birahi menyalanyala. Beberapa kali kami meninggalkan tempat tidur masingmasing di tengah malam dan bertemu di sofa untuk bergumul dalam persetubuhan kilat, atau kami menyiapkan makan malam bersama dan memainkan skenario menggenjot MakÂ

Post Terkait