cerita bokep

Cerita Bokep Mbak Dewi

Kejadian ini terjadi ketika aku lulus dari SMU. Perkenalkan, namaku Sigit. Kejadian ini tidak akan terlupakan karena ini adalah pertama kalinya aku merasakan nikmatnya sex yang sebenarnya. Pada waktu itu aku ML dengan Mbak Dewi yang umurnya kirakira 10 tahun lebih tua dariku. Wajahnya manis dan kulitnya putih.

Mbak Dewi adalah anak tetangga nenekku di desa daerah Cilacap yang ikut dengan keluargaku di Kota Semarang sejak SMP. Waktu SD ia sekolah di desa, setelah itu ia diajak keluargaku di kota untuk melanjutkan sekolah sekaligus membantu keluargaku terutama merawat aku.

Kami sangat akrab bahkan di juga sering ngeloni aku. Mbak Dewi ikut dengan keluargaku sampai dia lulus SMA atau aku kelas 2 SD dan dia kembali ke desa. Namanya juga anak kecil, jadi aku belum ada perasaan apaapa terhadapnya.

Setelah itu kami jarang bertemu, palingpaling hanya setahun 12 dua kali. 3 tahun kemudian ia menikah dan waktu aku kelas 2 SMP aku harus pindah luar Jawa ke Kota Makassar mengikuti ayah yang dipindah tugas.

Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Kami hanya berhubungan lewat surat dan kabarnya ia sekarang telah memiliki seorang anak. pada waktu aku lulus SMA aku pulang ke rumah nenek dan berniat mencari tempat kuliah di Kota Yogya.

Sesampai di rumah nenek aku tahu bahwa Mbak Dewi sudah punya rumah sendiri dan tinggal bersama suaminya di desa seberang. Setelah dua hari di rumah nenek aku berniat mengunjungi rumah Mbak Dewi. Setelah diberi tahu arah rumahnya (sekitar 1 km) aku pergi kirakira jam tiga sore dan berniat menginap. Dari sinilah cerita ini berawal.

Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, akhirnya aku sampai di rumah yang ciricirinya sama dengan yang dikatakan nenek. Sejenak kuamati kelihatannya sepi, lalu aku coba mengetok pintu rumahnya.

Ya sebentar.. terdengar sahutan wanita dari dalam.

Tak lama kemudian keluar seorang wanita dan aku masih kenal wajah itu walau lama tidak bertemu. Mbak Dewi terlihat manis dan kulitnya masih putih seperti dulu. Dia sepertinya tidak mengenaliku.

Cari siapa ya? tanya Mbak Dewi.
Anda Mbak Dewi kan? aku balik bertanya.
Iya benar, anda siapa ya dan ada keperluan apa? Mbak Dewi kembali bertanya dengan raut muka yang berusaha mengingatingat.
Masih inget sama aku nggak Mbak? Aku Sigit Mbak, masak lupa sama aku, kataku.
Kamu Sigit anaknya Pak Tono? kata Mbak Dewi setengah nggak percaya.
Ya ampun Git, aku nggak ngenalin kamu lagi. Berapa tahun coba kita nggak bertemu. Kata Mbak Dewi sambil memeluk tubuhku dan menciumi wajahku.

Aku kaget setengah mati, baru kali ini aku diciumi seorang wanita. Aku rasakan buah dadanya menekan dadaku. Ada perasaan lain muncul waktu itu.

Kamu kapan datangnya, dengan siapa kata Mbak Dewi sambil melepas pelukannya.
Saya datang dua hari lalu, saya hanya sendiri. kataku.
Eh iya ayo masuk, sampai lupa, ayo duduk. Katanya sambil menggeret tanganku.

Kami kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol sanasini, maklum lama nggak tetemu. Mbak Dewi duduk berhimpitan denganku. Tentu saja buah dadanya menempel di lenganku. Aku sedikit terangsang karena hal ini, tapi aku coba menghilangkan pikiran ini karena Mbak Dewi sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri.

Eh iya sampai lupa buatin kamu minum, kamu pasti haus, sebentar ya.. kata Mbak Dewi ditengah pembicaraan.

Tak lama kemudian ia datang, Ayo ini diminum, kata Mbak Dewi.

Kok sepi, pada kemana Mbak? Tanyaku.
Oh kebetulan Mas Heri (suaminya Mbak Dewi) pergi kerumah orang tuanya, ada keperluan, rencananya besok pulangya dan si Dani (anaknya Mbak Dewi) ikut jawab Mbak Dewi.
Belum punya Adik Mbak dan Mbak Dewi kok nggak ikut? tanyaku lagi.
Belum Git padahal udah pengen lho.. tapi memang dapatnya lama mungkin ya, kayak si Dani dulu.
Mbak Dewi ngurusi rumah jadi nggak bisa ikut katanya.
Eh kamu nginep disini kan? Mbak masih kangen lho sama kamu katanya lagi.
Iya Mbak, tadi sudah pamit kok kataku.
Kamu mandi dulu sana, ntar keburu dingin kata Mbak Dewi.

Lalu aku pergi mandi di belakang rumah dan setelah selesai aku lihatlihat kolam ikan di belakang rumah dan kulihat Mbak Dewi gantian mandi. Kurang lebih lima belas menit, Mbak Dewi selesai mandi dan aku terkejut karena ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Aku pastikan ia tidak memakai BH dan mungkin CD juga karena tidak aku lihat tali BH menggantung di pundaknya.

Sayang Git ikannya masih kecil, belum bisa buat lauk kata Mbak Dewi sambil melangkah ke arahku lalu kami ngobrol sebentar tentang kolam ikannya.

Kulihat buah dadanya sedikit menyembul dari balutan handuknya dan ditambah bau harum tubuhnya membuatku terangsang. Tak lama kemudian ia pamit mau ganti baju. Mataku tak lepas memperhatikan tubuh Mbak Dewi dari belakang. Kulitnya benarbenar putih. Sepasang pahanya putih mulus terlihat jelas bikin burungku berdiri.

Ingin rasanya aku lepas handuknya lalu meremas, menjilat buah dadanya, dan menusuknusuk selangkangannya dengan burungku seperti dalam bokep yang sering aku lihat. Sejenak aku berkhayal lalu kucoba menghilangkan khayalan itu.

Haripun berganti petang, udara dingin pegunungan mulai terasa. Setelah makan malam kami nonton teve sambil ngobrol banyak hal, sampai tak terasa sudah pukul sembilan.

Git nanti kamu tidur sama aku ya, Mbak kangen lho ngeloni kamu kata Mbak Dewi.
Apa Mbak? Kataku terkejut.
Iya.. Kamu nanti tidur sama aku saja. Inget nggak dulu waktu kecil aku sering ngeloni kamu katanya.
Iya Mbak aku inget jawabku.
Nah ayo tidur, Mbak udah ngantuk nih kata Mbak Dewi sambil beranjak melangkah ke kamar tidur dan aku mengikutinya dari belakang, pikiranku beranganangan ngeres. Sampai dikamar tidur aku masih ragu untuk naik ke ranjang.
Ayo jadi tidur nggak? tanya Mbak Dewi.

Lalu aku naik dan tiduran disampingnya. Aku degdegan. Kami masih ngobrol sampai jam 10 malam.

Tidur ya.. Mbak udah ngantuk banget kata Mbak Dewi.
Iya Mbak kataku walaupun sebenarnya aku belum ngantuk karena pikiranku semakin ngeres saja terbayangbayang pemandangan menggairahkan sore tadi, apalagi kini Mbak Dewi terbaring di sampingku, kurasakan burungku mengeras.

Aku melirik ke arah Mbak Dewi dan kulihat ia telah tertidur lelap. Dadaku semakin berdebar kencang tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ingin aku onani karena sudah tidak tahan, ingin juga aku memeluk Mbak Dewi dan menikmati tubuhnya, tapi itu tidak mungkin pikirku. Aku berusaha menghilangkan pikiran kotor itu, tapi tetap tak bisa sampai jam 11 malam. Lalu aku putus kan untuk melihat paha Mbak Dewi sambil aku onani karena bingung dan udah tidak tahan lagi.

Dengan dada berdebardebar aku buka selimut yang menutupi kakinya, kemudian dengan pelanpelan aku singkapkan roknya hingga celana dalam hitamnya kelihatan, dan terlihatlah sepasang paha putih mulus didepanku beitu dekat dan jelas. Semula aku hanya ingin melihatnya saja sambil berkhayal dan melakukan onani, tetapi aku penasaran ingin merasakan bagaimana meraba paha seorang perempuan tapi aku takut kalau dia terbangun. Kurasakan burungku melonjaklonjak seakan ingin melihat apa yang membuatnya terbangun. Karena sudah dikuasai nafsu akhirnya aku nekad, kapan lagi kalau tidak sekarang pikirku.

Dengan hatihati aku mulai meraba paha Mbak Dewi dari atas lutut lalu keatas, terasa halus sekali dan kulakukan beberapa kali. Karena semakin penasaran aku coba meraba celana dalamnya, tetapi tibatiba Mbak Dewi terbangun.

Sigit! Apa yang kamu lakukan! kata Mbak Dewi dengan terkejut.

Ia lalu menutupi pahanya dengan rok dan selimutnya lalu duduk sambil menampar pipiku. Terasa sakit sekali.

Kamu kok berani berbuat kurang ajar pada Mbak Dewi. Siapa yang ngajari kamu? kata Mbak Dewi dengan marah.

Aku hanya bisa diam dan menunduk takut. Burungku yang tadinya begitu perkasa aku rasakan langsung mengecil seakan hilang.

Tak kusangka kamu bisa melakukan hal itu padaku. Awas nanti kulaporkan kamu ke nenek dan bapakmu kata Mbak Dewi.
Ja.. jangan Mbak kataku ketakutan.
Mbak Dewi kan juga salah kataku lagi membela diri.
Apa maksudmu? tanya Mbak Dewi.

Mbak Dewi masih menganggap saya anak kecil, padahal saya kan udah besar Mbak, sudah lebih dari 17 tahun. Tapi Mbak Dewi masih memperlakukan aku seperti waktu aku masih kecil, pakai ngeloni aku segala. Trus tadi sore juga, habis mandi Mbak Dewi hanya memakai handuk saja didepanku. Saya kan lelaki normal Mbak jelasku.

Kulihat Mbak Dewi hanya diam saja, lalu aku berniat keluar dari kamar.

Mbak.. permisi, biar saya tidur saja di kamar sebelah kataku sambil turun dari ranjang dan berjalan keluar.

Mbak Dewi hanya diam saja. Sampai di kamar sebelah aku rebahkan tubuhku dan mengutuki diriku yang berbuat bodoh dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kurang lebih 15 menit kemudian kudengar pintu kamarku diketuk.

Git.. kamu masih bangun? Mbak boleh masuk nggak? Terdengar suara Mbak Dewi dari luar.
Ya Mbak, silakan kataku sambil berpikir mau apa dia.

Mbak Dewi masuk kamarku lalu kami duduk di tepi ranjang. Aku lihat wajahnya sudah tidak marah lagi.

Git.. Maafkan Mbak ya telah nampar kamu katanya.
Seharusnya saya yang minta maaf telah kurang ajar sama Mbak Dewi kataku.

Nggak Git, kamu nggak salah, setelah Mbak pikir, apa yang kamu katakan tadi benar. Karena lama nggak bertemu, Mbak masih saja menganggap kamu seorang anak kecil seperti dulu aku ngasuh kamu. Mbak tidak menyadari bahwa kamu sekarang sudah besar kata Mbak Dewi.

Aku hanya diam dalam hatiku merasa lega Mbak Dewi tidak marah lagi.

Git, kamu bener mau sama Mbak? tanya Mbak Dewi.
Maksud Mbak? kataku terkejut sambil memandangi wajahnya yang terlihat bagitu manis.
Iya.. Mbak kan udah nggak muda lagi, masa sih kamu masih tertarik sama aku? katanya lagi.

Aku hanya diam, takut salah ngomong dan membuatnya marah lagi.

Maksud Mbak.., kalau kamu bener mau sama Mbak, aku rela kok melakukannya dengan kamu katanya lagi.

Mendengar hal itu aku tambah terkejut, seakan nggak percaya.

Apa Mbak kataku terkejut.
Bukan apaapa Git, kamu jangan berpikiran enggakenggak sama Mbak. Ini hanya untuk meyakinkan Mbak bahwa kamu telah dewasa dan lain kali tidak menganggap kamu anak kecil lagi kata Mbak Dewi

Lagilagi aku hanya diam, seakan nggak percaya. Ingin aku mengatakan iya, tapi takut dan malu. Mau menolak tapi aku pikir kapan lagi kesempatan seperti ini yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.

Gimana Git? Tapi sekali aja ya.. dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berdua kata Mbak Dewi.

Aku hanya mengangguk kecil tanda bahwa aku mau.

Kamu pasti belum pernah kan? kata Mbak Dewi.
Belum Mbak, tapi pernah lihat di film kataku.
Kalau begitu aku nggak perlu ngajari kamu lagi kata Mbak Dewi.

Mbak Dewi lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam, aku diam sambil memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu Mbak Dewi mencopot roknya dan paha mulus yang aku gerayangi tadi terlihat. Tangannya diarahkan ke belakang pundak dan BH itupun terlepas, sepasang buah dada berukuran sedang terlihat sangat indah dipadu dengan puting susunya yang mencuat kedepan.

Mbak Dewi lalu mencopot CD hitamnya dan kini ia telah telanjang bulat. Penisku terasa tegang karena baru pertama kali ini aku melihat wanita telanjang langsung dihadapanku. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya terlentang. Aku begitu takjub, bayangkan ada seorang wanita telanjang dan pasrah berbaring di ranjang tepat dihadapanku. Aku tertegun dan ragu untuk melakukannya.

Ayo Git.. apa yang kamu tunggu, Mbak udak siap kok, jangan takut, nanti Mbak bantu kata Mbak Dewi.

Segera aku melepaskan semua pakaianku karena sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi. Kulihat Mbak Dewi memperhatikan burungku yang berdenyutdenyut, aku lalu naik ke atas ranjang. Karena sudah tidak sabar, langsung saja aku memulainya. Langsung saja aku kecup bibirnya, kulumatlumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, aku pikir mungkin suaminya tidak pernah melakukannya, tapi tidak aku hiraukan, terus aku lumat bibirnya.

Sementara itu kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu aku eluselus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.

Ooh.. Git.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh.. Mbak Dewi mulai mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali kurasakan ia menelan ludahnya yang mulai mengental.

Setelah puas dengan bibirnya, kini mulutku kuarahkan ke bawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini tepat berada di hadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah lelaki. Langsung aku jilati mulai dari bawah lalu ke arah putingnya, sedangkan buah dada kanannya tetap kuremasremas sehingga tambah kenyal dan mengeras.

Emmh oh aarghh Mbak Dewi mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.

Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jariku kuarahkan ke selangkangannya. Disana kurasakan ada rumput yang tumbuh di sekeliling memeknya. Jarijariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa ia sudah benarbenar terangsang. Kupermainkan jarijariku sambil mencari klentitnya. Kugerakkan jarijariku keluar masuk di dalam lubang yang semakin licin tersebut.

Aargghh.. eemhh.. Git kam.. mu ngapainn oohh.. kata Mbak Dewi meracau tak karuan, kakinya menjejakjejak sprei dan badannya mengeliatgeliat.

Tak kupedulikan katakatanya. Tubuh Mbak Dewi semakin mengelinjang dikuasai nafsu birahi. Kuarasakan tubuh Mbak Dewi menegang dan kulihat wajahnya memerah bercucuran keringat, aku pikir dia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku didalam memeknya.

Ohh.. arghh.. oohh.. kata Mbak Dewi dengan nafas tersengalsengal dan tibatiba..
Oohh aahh.. Mbak Dewi mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya bergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi memeknya.
Ohh.. ohh.. emhh.. Mbak Dewi masih mendesahdesah meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.
Git apa yang kamu lakukan kok Mbak bisa kayak gini tanya Mbak Dewi.
Kenapa emangnya Mbak? Kataku.
Baru kali ini aku merasakan nikmat seperti ini, luar biasa kata Mbak Dewi.

Ia lalu bercerita bahwa selama bersama suaminya ia tidak pernah mendapatkan kepuasan, karena mereka hanya sebentar saja bercumbu dan dalam bercinta suaminya cepat selesai.

Mbak sekarang giliranku kubisikkan ditelinganya, Mbak Dewi mengangguk kecil.

Aku mulai mencumbunya lagi. Kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang aku nikmati, tak lupa jarijariku kupermainkan di dalam memeknya.

Aarghh.. emhh.. ooh.. terdengar Mbak Dewi mulai mendesahdesah lagi tanda ia telah terangsang.

Setelah aku rasa cukup, aku ingin segera merasakan bagaimana rasanya menusukkan burungku ke dalam memeknya. Aku mensejajarkan tubuhku diatas tubuhnya dan Mbak Dewi tahu, ia lalu mengangkangkan pahanya dan kuarahkan burungku ke memeknya. Setelah sampai didepannya aku ragu untuk melakukannya.

Ayo Git jangan takut, masukin aja kata Mbak Dewi.

Perlahanlahan aku masukkan burungku sambil kunikmati, bless terasa nikmat saat itu. Burungku mudah saja memasuki memeknya karena sudah sangat basah dan licin. Kini mulai kugerakkan pinggulku naik turun perlahanlahan. Ohh nikmatnya.

Lebih cepat Git arghh.. emhh kata Mbak Dewi terputusputus dengan mata meremmelek.

Aku percepat gerakanku dan terdengar suara berkecipak dari memeknya.

Iya.. begitu.. aahh.. ter.. rrus.. arghh.. Mbak Dewi berkata tak karuan.

Keringat kami bercucuran deras sekali. Kulihat wajahnya semakin memerah.

Git, Mbak mau.. enak lagi.. oohh.. ahh.. aahh.. ahh.. kata Mbak Dewi sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar dan kurasakan memeknya dipenuhi cairan hangat menyiram penisku.

Remasan dinding memeknya begitu kuat, akupun percepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai klimaks aahh.., kubiarkan air maniku keluar di dalam memeknya. Kurasakan nikmat yang luar biasa, berkalikali lebih nikmat dibandingkan ketika aku onani.

Aku peluk tubuhnya eraterat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yang sesungguhnya yang baru aku rasakan pertama kali dalam hidupku. Setelah cukup kumenikmatinya aku cabut burungku dan merebahkan badanku disampinya.

Mbak Dewi, terima kasih ya.. kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.
Mbak juga Git.. baru kali ini Mbak merasakan kepuasan seperti ini, kamu hebat kata Mbak Dewi lalu mengecup bibirku.

Kami berdua lalu tidur karena kecapaian.

Kirakira jam 3 pagi aku terbangun dan merasa haus sekali, aku ingin mencari minum. Ketika aku baru mau turun dari ranjang, Mbak Dewi juga terbangun.

Kamu mau kemana Git.. katanya.
Aku mau cari minum, aku haus. Mbak Dewi mau? Kataku.

Ia hanya mengangguk kecil. Aku ambil selimut untuk menutupi anuku lalu aku ke dapur dan kuambil sebotol air putih.

Ini Mbak minumnya kataku sambil kusodorkan segelas air putih.

Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi Mbak Dewi yang tubuhnya ditutupi selimut meminum air yang kuberikan.

Ada apa Git, kok kamu memandangi Mbak katanya.
Ah nggak Papa. Mbak cantik kataku sedikit merayu.
Ah kamu Git, bisa aja, Mbak kan udah tua Git kata Mbak Dewi.
Bener kok, Mbak malah makin cantik sekarang kataku sambil kukecup bibirnya.
Git.. boleh nggak Mbak minta sesuatu kata Mbak Dewi.
Minta apa Mbak? tanyaku penasaran.
Mau nggak kamu kalau.. kata Mbak Dewi terhenti.
Kalau apa Mbak? kataku penuh tanda tanya.
Kalau.. kalau kamu emm.. melakukannya lagi kata Mbak Dewi dengan malumalu sambil menunduk, terlihat pipinya memerah.
Lho.. katanya tadi, sekali aja ya Git.., tapi sekarang kok? kataku menggodanya.
Ah kamu, kan tadi Mbak nggak ngira bakal kayak gini katanya manja sambil mencubit lenganku.
Dengan senang hati aku akan melayani Mbak Dewi kataku.

Sebenarnya aku baru mau mengajaknya lagi, e.. malah dia duluan. Ternyata Mbak Dewi juga ketagihan. Memang benar jika seorang wanita pernah merasa puas, dia sendiri yang akan meminta. Kami mulai bercumbu lagi, kali ini aku ingin menikmati dengan dengan sepuas hatiku. Ingin kunikmati setiap inci tubuhnya, karena kini aku tahu Mbak Dewi juga sangat ingin. Seperti tadi, pertamatama bibirnya yang kunikmati. Dengan penuh kelembutan aku melumatlumat bibir Mbak Dewi.

Aku makin berani, kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku. Mbak Dewi pun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kami saling beradu, membuatku semakin betah saja berlamalama menikmati bibirnya. Tanganku juga seperti tadi, beroperasi di dadanya, kuremasremas dadanya yang kenyal mulai dari lembah hingga ke puncaknya lalu aku pelintir putingnya sehingga membuatnya menggeliat dan mengelinjang. Dua bukit kembar itupun semakin mengeras. Ia menggigit bibirku ketika kupelintir putingnya.

Aku sudah puas dengan bibirnya, kini mulutku mengulum dan melumat buah dadanya. Dengan sigap lidahku menarinari diatas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremasremas buah dadanya yang kanan. Kulihat mata Mbak Dewi sangat redup, dan ia memagutmagut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.

Oohh.. arghh.. en.. ennak Git.. emhh.. kata Mbak Dewi mendesahdesah.

Tibatiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremasremas dadanya dan menyeretnya ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya, rupanya ia ingin aku segera mempermainkan memeknya. Jarijarikupun segera bergerilya di memeknya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kueluselus klentitnya membuatnya semakin menggelinjang tak karuan.

Ya.. terruss.. aargghh.. emmhh.. enak.. oohh.. mulut Mbak Dewi meracau.

Setiap kali Mbak Dewi terasa mau mencapai klimaks, aku hentikan jariku menusuk memeknya, setelah dia agak tenang, aku permainkan lagi memeknya, kulakukan beberapa kali.

Emhh Git.. ayo dong jangan begitu.. kau jahat oohh.. kata Mbak Dewi memohon.

Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi aku tidak akan membuatnya klimaks dengan jariku tetapi dengan mulutku, aku benarbenar ingin mencoba semua yang pernah aku lihat di bokep.

Segera aku arahkan mulutku ke selangkangannya. Kusibakkan rumputrumpuat hitam yang disekeliling memeknya dan terlihatlah memeknya yang merah dan mengkilap basah, sungguh indah karena baru kali ini melihatnya. Aku agak ragu untuk melakukannya, tetapi rasa penasaranku seperti apa sih rasanya menjilati memek lebih besar. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.

Git.. apa yang kamu lakukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh.. kata Mbak Dewi.

Ia terkejut aku menggunakan mulutku untuk menjilati memeknya, tapi aku tidak pedulikan katakatanya. Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tak karuan dan tak lama kemudian tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkeram sprei dan mulutku di penuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

Ohmm.. emhh.. ennak Git.. aahh.. kata Mbak Dewi ketika ia klimaks.

Setelah Mbak Dewi selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, aku kembali mencumbunya lagi karena aku juga ingin mencapai kepuasan.

Gantian Mbak diatas ya sekarang kataku.
Gimana Git aku nggak ngerti kata Mbak Dewi.

Daripada aku menjelaskan, langsung aku praktekkan. Aku tidur telentang dan Mbak Dewi aku suruh melangkah diatas burungku, tampaknya ia mulai mengerti. Tangannya memegang burungku yang tegang hebat lalu perlahanlahan pinggangnya diturunkan dan memeknya diarahkan ke burungku dan dalam sekejap bless burungku hilang ditelan memeknya. Mbak Dewi lalu mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggangnya dan ketika sampai di kepala penisku ia turunkan lagi. Mulamula ia pelanpelan tapi ia kini mulai mempercepat gerakannya.

Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesisdesih. Sungguh sangat sexy wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan.

Wajah Mbak Dewi terlihat sangat cantik seperti itu apalagi ditambah rambut sebahunya yang terlihat acakacakan terombang ambing gerakan kepalanya. Buah dadanya pun terguncangguncang, lalu tanganku meremasremasnya. Desahannya tambah keras ketika jarijariku memelintir puting susunya.

Oh emhh yaah.. ohh.. itulah katakata yang keluar dari mulut Mbak Dewi.
Aku nggak kuat lagi Git.. kata Mbak Dewi sambil berhenti menggerakkan badannya, aku tahu ia segera mencapai klimaks.

Kurebahkan badannya dan aku segera memompa memeknya dan tak lama kemudian Mbak Dewi mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan Mbak Dewi menikmati kenikmatan yang diperolehnya. Setelah itu aku cabut penisku dan kusuruh Mbak Dewi menungging lalu kumasukkan burungku dari belakang. Mbak Dewi terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang aku lakukan kepadanya. Ia hanya bisa mendesah kenikmatan.

Setelah puas dengan posisi ini, aku suruh Mbak Dewi rebahan lagi dan aku masukkan lagi burungku dan memompa memeknya lagi karena aku sudah ingin sekali mengakhirinya. Beberapa saat kemudian Mbak Dewi ingin klimaks lagi, wajahnya memerah, tubuhnya menggelinjang kesana kemari.

Ahh.. oh.. Mbak mau enak lagi Git.. arrghh ahh.. kata Mbak Dewi.
Tunggu Mbak, ki kita bareng aku juga hampir kataku.
Mbak udah nggak tahan Git.. ahh.. kata Mbak Dewi sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik.

Cairan hangat menyiram burungku dan kurasakan dinding memeknya seakanakan menyedot penisku begitu kuat dan akhirnya akupun tidak kuat dan croott.. akupun mencapai klimaks, oh my god nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat menikmati kenikmatan yang baru saja kami raih.

Post Terkait